• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Prospek Harga CPO Diproyeksi Bertahan di Level RM4.400–RM4.600 per Ton, Ditopang Mandat B50 dan Risiko Pasokan Global

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil / CPO) diperkirakan bergerak stabil di kisaran RM4.400 hingga RM4.600 per ton dalam waktu dekat. Prospek positif ini ditopang oleh risiko pengetatan pasokan minyak nabati global, meskipun ruang kenaikan harga masih akan dibatasi oleh tingginya tingkat persediaan sawit di Malaysia.

Berdasarkan laporan CIMB Securities Sdn Bhd yang dilansir NST, sejumlah katalis utama mendukung penguatan harga CPO, mulai dari margin biofuel yang semakin menarik, ancaman penguatan kondisi El Nino, hingga potensi penurunan produksi sawit jangka panjang mulai tahun 2027.

Lonjakan harga energi global turut mengerek margin biofuel. Dinamika ini mengubah posisi harga CPO Indonesia yang sebelumnya berada di level premium terhadap gasoil pada Agustus 2025, menjadi berbalik diskon pada Agustus 2026. Perubahan struktur harga tersebut dinilai berpotensi mendongkrak permintaan biodiesel sekaligus meringankan beban subsidi dari penerapan mandat biodiesel B50 di Indonesia.

Ancaman Tekanan Produksi dan Lonjakan Permintaan Alternatif

CIMB Securities mencatat adanya anomali cuaca berupa kekeringan dan curah hujan rendah di Indonesia serta Malaysia selama enam pekan terakhir. Ditambah dengan penurunan penggunaan pupuk oleh petani, kondisi ini meningkatkan risiko penurunan produksi minyak sawit secara signifikan mulai tahun 2027.

Indikasi pengetatan pasokan juga tercermin di pasar berjangka, di mana kontrak CPO untuk periode Januari–Maret 2027 diperdagangkan dengan premi lebih dari RM594 per ton dibanding kontrak Oktober 2026. Di sisi lain, potensi penurunan ekspor minyak bunga matahari dari Rusia dan Ukraina diproyeksikan memicu peralihan permintaan ke minyak sawit, terutama dari para penyuling India yang biasanya meningkatkan pembelian pada periode Oktober hingga Maret.

Tantangan Jangka Pendek: Lonjakan Stok Malaysia

Kendati tren jangka panjang cenderung bullish, tingginya stok sawit Malaysia masih menjadi sentimen penahan laju kenaikan harga CPO dalam jangka pendek. Persediaan sawit Malaysia pada Agustus 2026 tercatat melonjak 7,5% secara bulanan (month-on-month) dan 28,2% secara tahunan (year-on-year) menjadi 2,82 juta ton—jauh di atas estimasi konsensus pasar. Lonjakan stok ini dipicu oleh ekspor yang lebih lemah dari perkiraan akibat tingginya level harga CPO, sementara produksi bulanan tercatat tumbuh tipis 1,4% menjadi 1,82 juta ton.

CIMB Securities memperkirakan stok sawit Malaysia akan kembali merangkak naik 5,3% ke angka 2,98 juta ton pada September 2026. Pemulihan ekspor dinilai menjadi kunci utama untuk meredam penumpukan stok lanjutan, di tengah produksi yang relatif stabil secara musiman.

Meskipun tingginya pasokan domestik Malaysia berpotensi membatasi reli harga dalam jangka pendek, tekanan koreksi di pasar diyakini tetap terkendali seiring adanya faktor pembatas pertumbuhan produksi dari sisi biologis tanaman sawit. Mempertimbangkan berbagai faktor fundamental tersebut, CIMB Securities tetap mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO untuk tahun 2026 dan 2027 masing-masing di level RM4.450 dan RM4.550 per ton.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait