• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Program Anti-Bullying Wilmar Ikhtiar Bangun Karakter Generasi Muda

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Upaya meningkatkan kesadaran siswa di lingkungan sekolah dalam mencegah serta menanggulangi praktik perundungan sejak dini turut dilakukan salah satu perusahaan sawit.

Yakni Wilmar, hal tersebut menjadi bentuk komitmen dalam pembangunan karakter generasi muda, yang diwujudkan melalui sosialisasi program anti-bullying di sekolah-sekolah yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Bahkan, kegiatan sosialisasi sudah dilakukan sejak tujuh tahun lalu.

Koordinator Women on Working Group (WoW) Wilmar Central Kalimantan Project, Sarimanah, menyampaikan sosialisasi tersebut telah dijalankan sejak 2019 melalui integrasi materi anti-bullying ke dalam kurikulum Sekolah Bina Bangsa, sekolah yang dikelola perusahaan di Sampit, Kalimantan Tengah. Program ini disambut positif oleh pihak sekolah, orang tua, maupun siswa.

"Kami ingin menekan potensi terjadinya perundungan sedini mungkin, sebagai bagian dari upaya melindungi dan membentuk karakter generasi muda," ujar Sarimanah dalam keterangan resmi yang diterima redaksi sawitindonesia.com.

Materi pembelajaran anti-bullying tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga melalui kegiatan praktik, seperti mengenali tanda-tanda perundungan, langkah penanganan dan pencegahan, hingga pendampingan bagi korban. Selain itu, siswa juga diajak mengekspresikan pesan anti-bullying melalui berbagai bentuk pentas seni bertema empati, persahabatan, dan saling menghargai.

Menurut Sarimanah, penerapan kurikulum tersebut terbukti membantu menekan kasus perundungan di lingkungan sekolah. "Kami melihat perubahan perilaku positif pada siswa, baik dalam berinteraksi maupun dalam menyelesaikan konflik secara sehat," terangnya.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, tim WoW Wilmar juga telah mendapatkan pelatihan khusus mengenai pencegahan kekerasan terhadap anak dan anti-bullying dari International Labour Organization (ILO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF).

"Dengan dukungan dari lembaga internasional tersebut, kami berharap dapat terus memperluas dampak positif program ini ke lebih banyak sekolah di wilayah operasional Wilmar," ujar Sarimanah.

"Sosialisasi anti-bullying dapat diperluas ke lingkungan yang lebih luas dan mendapatkan dukungan yang lebih banyak lagi, terutama masyarakat. Hal itu mengingat maraknya kasus bullying saat ini. Jika lebih banyak lagi pihak yang dapat berpartisipasi, kasus bullying diharapkan dapat ditekan," pungkasnya.

Artikel Terkait