• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Produktivitas Sawit OKU Masih Tertinggal, 91 Pekebun Ikuti Pelatihan Budidaya Modern

Palembang, SAWIT INDONESIA – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) pekebun sebagai strategi utama meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan 91 pekebun dalam Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan XXI, XXII, dan XXIII. Pelatihan berlangsung pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026 di hotel ternama di kota Palembang, dengan kegiatan praktik lapangan di PPK Sembawa.

Program ini merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training sebagai penyelenggara pelatihan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Komering Ulu, Joni Saihu, mengatakan produktivitas sawit di daerahnya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dibenahi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari usia pengembangan komoditas sawit yang relatif masih muda dibandingkan daerah lain di Sumatera Selatan.

"Perkembangannya cukup pesat, tetapi produktivitas masih harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan daerah lain," ujarnya.

Ia menjelaskan perkembangan luas perkebunan sawit di wilayahnya mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Saat mulai menjabat pada 2022, luas kebun sawit baru sekitar 1.000 hektare. Kini luasnya telah mencapai sekitar 7.000 hektare.

Pertumbuhan tersebut juga diikuti peningkatan produksi. Pada 2024 produksi sawit tercatat sekitar 6.100 ton dan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 12.120 ton pada 2025.

Meski demikian, pengembangan perkebunan sawit rakyat masih menghadapi sejumlah kendala. Infrastruktur jalan menuju kebun yang belum memadai membuat distribusi hasil panen belum optimal. Selain itu, sebagian besar pekebun hanya memiliki lahan seluas satu hingga dua hektare sehingga kemampuan memperluas usaha masih terbatas.

Tantangan lain yang dihadapi adalah penggunaan benih. Keterbatasan modal menyebabkan sebagian pekebun belum mampu membeli bibit unggul bersertifikat sehingga masih menggunakan bibit dengan mutu yang belum terjamin.

Sebab itu, pelatihan ini diharapkan menjadi bekal penting bagi pekebun untuk memahami teknik budidaya yang benar, mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan kebun, penguatan kelembagaan, hingga strategi pemasaran hasil panen.

"Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, para pekebun mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih baik sehingga produktivitas kebun terus meningkat," ujarnya.

Tiga kunci keberhasilan budidaya sawit

Perwakilan narasumber IPB Training, Prof. Dr. Ir. Suwardi, M.Agr, menjelaskan pelatihan dirancang untuk membangun kemampuan teknis pekebun agar mampu mengelola kebun secara produktif sekaligus berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan budidaya kelapa sawit ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu kesesuaian lahan, penggunaan bibit unggul, serta pemeliharaan dan pemupukan yang dilakukan secara tepat.

Selama enam hari pelatihan, peserta mengikuti pembelajaran yang memadukan teori, diskusi, praktikum, dan kunjungan lapangan. Materi disusun secara komprehensif mulai dari regulasi budidaya, persiapan benih, pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Peserta juga dibekali penerapan prinsip pemupukan tepat (5T), teknik pengendalian gulma, identifikasi kekurangan unsur hara, hingga penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengedepankan deteksi dini, pemanfaatan agens hayati, dan penggunaan pestisida secara bijaksana.

Sebagai penguatan materi, seluruh peserta mengikuti kunjungan lapang ke PPK Sembawa untuk melihat secara langsung praktik pembibitan, pengelolaan tanaman belum menghasilkan, teknik kastrasi, pruning, hingga berdiskusi dengan praktisi mengenai berbagai persoalan budidaya yang sering dihadapi di lapangan.

Melalui rangkaian pelatihan tersebut, BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training berharap kompetensi pekebun terus meningkat sehingga mampu menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang lebih berkualitas, meningkatkan produktivitas kebun rakyat, serta memperkuat daya saing sawit Indonesia secara berkelanjutan.

Artikel Terkait