• Senin, 5 Oktober 2026
Pojok Koperasi

KUD Lubuk Karya Sukses Produksi Pupuk NPK 20 Ton/hari

KUD Lubuk Karya mengembangkan pupuk NPK merek Dharmasraya. Untuk meningkatkan kesejahteraan anggota, koperasi ini juga memiliki beragam unit ekonomi lain.

Tidak sedikit kelembagaan petani sawit yang mampu berjalan sesuai dengan tujuan dan mengembangkan kelembagaannya. Namun, berbeda dengan kelembagaan petani sawit, KUD Lubuk Karya.

KUD yang berada di jalan poros Nagari, Koto Tinggi Nagari, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya – Sumatera Barat ini, telah berhasil tidak hanya menjalankan roda organisasi (kelembagaan) melainkan sukses mengembangkan usaha untuk kesejahteraan anggota.

Saat ini tercatat, KUD Lubuk Karya sudah memiliki 9 unit usaha antara lain unit kebun kelapa sawit, unit alat berat, unit transportasi, unit sarana produksi pertanian, unit timbangan TBS, unit simpan pinjam, unit peternakan sapi, unit perikanan, dan unit pabrik pupuk. Dengan asset yang dimiliki mencapai Rp25 miliar.

“Semua usaha yang dikembangkan KUD Lubuk Karya, semata-mata untuk kesejahteraan anggota. Kami ingin maju dan Sejahtera bersama anggota,” ujarJhon Nasri Ketua KUD Lubuk Karya, saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Saat ini, KUD Lubuk Karya mengembangkan usaha anggota di bidang peternakan dan perikanan yang terintegrasi dengan kebun sawit anggota, yang merupakan pilar sektoril ekonomi dengan istilah "Economy Three in One", usaha anggota KUD Lubuk Karya di Nagari Koto Tinggi.

Yang menarik dari berbagai usaha yang diciptakan dan dikembangkan KUD Lubuk Karya yaitu unit usaha pupuk. Hal ini disadari karena kebutuhan pupuk menjadi kebutuhan pokok dalam budidaya tanaman agar bisa menghasilkan produksi yang optimal.

Seperti diketahui, tujuan dilakukan pemupukan antara lain untuk memperbaiki kondisi tanah, meningkatkan kesuburan tanah, memberikan nutrisi untuk tanaman, dan memperbaiki kualitas serta kuantitas tanaman. Selain itu, proses pemupukan sangat berperan dalam memastikan keberhasilan produksi tanaman tersebut.

Unit usaha pabrik pupuk yang dikelola KUD Lubuk Karya, berasal dari bantuan dana pemerintah (Kementerian Koperasi) pada 2003, untuk pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 5 ton/jam.

“Karena rumitnya birokrasi, pembangunan pabrik kelapa sawit dengan dana bantuan dari pemerintah tidak terealisasi. Singkat cerita, pada 2011 kami mengajukan permohonan pengalihan fungsi, dialihkan dari pabrik kelapa sawit menjadi pabrik pupuk organik,” ungkap Jhon.

“Sejak tahun 2011, saya bergerak memproduksi pupuk unsur kalium saja dari janjang kosong. Pupuk ini dari abu janjang kosong yang dibakar dipabrik dicampur dengan dolomit yang diijual dengan harga Rp60 ribu/sak,” ujarnya.

“Setelah berjalan dan berkembang, dan saat itu membeli pupuk sangat sulit, mencari pupuk urea sulit, phosphate sulit, SP sulit. Hingga 2019 dibuatlah perencanaan untuk memproduksi pupuk NPK dan diberi merek Dharmas Plant. Sesuai dengan nama daerah kami yaitu Dharmasraya” jelasnya.

Seperti diketahui, Kabupaten Dharmasraya memiliki potensi sumber daya alam untuk pengembangan pertanian dan perkebunan. Potensi inilah yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan perekonomian masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian di Sumatera Barat.

Dalam perkembangannya KUD Lubuk Karya menjadi salah satu KUD berkontribusi yang signifikan dalam perekonomian masyarakat petani dan pekebun. Melalui akses pembiayaan, pengetahuan dan sarana yang memadai KUD Lubuk Karya mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan ekonomi bagi anggotanya.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 156)

Artikel Terkait