• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Produksi Stagnan, Kebutuhan Biodiesel B50 Mengurangi Ruang Ekspor

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Prospek ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia pada 2026 diperkirakan belum sepenuhnya cerah. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai kinerja ekspor tahun ini berpotensi tertekan seiring meningkatnya kebutuhan domestik dan rencana penerapan mandatori biodiesel 50% (B50).

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menjelaskan bahwa penyerapan CPO di dalam negeri akan melonjak signifikan setelah B50 mulai dijalankan. Di tengah produksi yang cenderung stagnan, tambahan kebutuhan untuk program biodiesel otomatis mengurangi ruang ekspor.

"Tidak mungkin yang dikurangi adalah pasokan untuk kebutuhan dalam negeri," ujar Eddy dalam keterangan resminya.

Eddy menyebut stagnasi produksi tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga Malaysia sebagai dua produsen utama minyak sawit dunia. Sementara itu, permintaan global terhadap minyak nabati terus menunjukkan tren kenaikan.

Ketidakseimbangan antara pasokan yang terbatas dengan kebutuhan yang meningkat menjadi tantangan utama industri sawit pada 2026.

Gapki memproyeksikan stagnasi produksi dapat berlanjut hingga tahun ini. Dengan kondisi tersebut, harga minyak sawit berpotensi menguat kembali karena tekanan pasokan. Namun, tingginya konsumsi domestik juga membawa konsekuensi lain bagi perekonomian nasional.

Menurut Eddy, sebagai produsen terbesar sekaligus konsumen terbesar minyak sawit dunia, Indonesia menghadapi risiko tekanan inflasi, terutama pada sektor pangan dan energi. Peningkatan penyerapan CPO untuk keperluan dalam negeri dinilai bisa berdampak pada stabilitas harga sejumlah kebutuhan pokok.

Dengan berbagai dinamika tersebut, pelaku industri kini menunggu kebijakan lanjutan pemerintah, termasuk langkah antisipasi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri, stabilitas harga, dan kinerja ekspor.

Sumber: riauaktual.com

Artikel Terkait