• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Produksi Sawit di 2045 Berpotensi di Bawah 100 Juta Ton

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Target ambisius pemerintah untuk mencapai produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 100 juta ton pada 2045 dinilai masih jauh dari kenyataan. Pasalnya, hingga tahun 2024, produksi nasional baru mencapai sekitar 53 juta ton, atau hanya separuh dari sasaran yang dicanangkan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengatakan, target realistis GAPKI sendiri untuk 2045 sebesar 92,44 juta ton. Ia mengingatkan bahwa mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045 harus dibarengi dengan perbaikan mendasar di sektor hulu industri sawit.

“Hilirisasi tidak akan berhasil jika hulunya tidak diselesaikan. Menurut kami, yang harus diperbaiki adalah di hulunya dulu. Kalau hulunya bermasalah, hilirnya juga tidak akan berjalan baik,” ujar Eddy dalam diskusi bertajuk "Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045", Rabu (6 November 2025).

Ia menekankan, keberhasilan hilirisasi dan peningkatan pendapatan nasional sangat bergantung pada produktivitas kebun sawit. Dalam beberapa tahun terakhir, tren produktivitas sawit justru menunjukkan penurunan.

“Produksi kita pada periode 2001–2005 terus meningkat, bahkan pada 2016–2020 naik tajam. Namun sejak 2021–2024 justru cenderung turun. PR-nya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas agar produksi bisa naik,” tambah Eddy.

Peran Vital Biodiesel

Eddy juga menyoroti pentingnya program biodiesel dalam menjaga stabilitas ekonomi di daerah sentra sawit. Menurutnya, tanpa kebijakan mandatori biodiesel, perekonomian lokal di wilayah penghasil sawit tidak akan sebaik saat ini.

“Dengan adanya biodiesel, harga tandan buah segar (TBS) tetap cukup bagus. Sebelum ada program itu, harga TBS bahkan sempat di bawah biaya produksi. Petani sampai membiarkan buahnya busuk di pohon, pengusaha pun bekerja dalam keadaan rugi,” jelasnya.

Namun, Eddy mengingatkan bahwa keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan harus tetap dijaga. Konsumsi domestik produk sawit terus meningkat, terutama karena program biodiesel.

Data GAPKI menunjukkan, hingga Agustus 2025, produksi sawit nasional naik 13,1 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Sementara ekspor meningkat 15,3 persen, dan konsumsi dalam negeri tumbuh 5,4 persen.

Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, sekaligus konsumen terbesar. Ironisnya, menurut Eddy, kesadaran masyarakat terhadap besarnya konsumsi produk turunan sawit masih rendah.

“Kita tidak sadar kalau sebenarnya konsumsi produk sawit di dalam negeri sangat besar. Naturalisasi sawit di Indonesia ini salah satu yang paling berhasil. Padahal, tanaman ini asalnya dari Afrika, bahkan kini negara asalnya justru mengimpor dari kita,” ujarnya.

Meski ekspor dan konsumsi menunjukkan tren positif, produksi sawit nasional justru sempat mengalami penurunan bulanan. GAPKI mencatat, pada Agustus dibanding Juli 2025, produksi turun sekitar 1 persen, diikuti penurunan ekspor, sementara konsumsi domestik justru meningkat.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tantangan utama industri sawit bukan sekadar memperluas hilirisasi, melainkan meningkatkan produktivitas kebun eksisting dan menyelesaikan persoalan di hulu.

“Kita semua ingin berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Tapi untuk sampai ke target 92,44 juta ton CPO, apalagi 100 juta ton, jalannya masih panjang. Kita perlu kerja keras bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani,” tegas Eddy.

Artikel Terkait