• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Industri Minyak Kelapa Sawit Indonesia Sangat Penting Dalam Bidang Ekonomi

Jakarta, Sawit Indonesia - Indonesia merupakan negara terbesar nomor satu penghasil kelapa sawit di dunia. Konstribusi produksinya hampir 59%, diikuti oleh Malaysia 24%, dan negara negara lainnya termaasuk di dalamnya Gana diangka 17%.

Dengan besarnya potensi dan keunggulan yang dimilikinya, industri minyak kelapa sawit Indonesia memiliki peranan yang sangat penting dalam bidang ekonomi. Sebab, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen dan pemasok Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PR EPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Umi Karomah Yaumidin, pada salah satu sesi diskusi dalam rangkaian Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) hari pertama, di Gedung Widya Graha Kawasan Sains BRIN Gatot Subroto Jakarta, Selasa (13/08).

Lebih lanjut Umi menyampaikan, Indonesia memiliki luas lahan kelapa sawit sebesar 16,38 juta ha dengan total produksi 46,8 juta ton CPO. Ia memperlihatkan data Kementerian Pertanian, bahwa 73,83% dari jumlah nilai ekspor pertanian Indonesia berasal dari komoditas kelapa sawit.

“Jadi, industri sawit menjadi komponen vital dalam ekonomi Indonesia dan memiliki dampak yang signifikan dalam berbagai aspek. Termasuk pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan kontribusi terhadap perdagangan internasional,” urainya.

Sayangnya, menurut dia, secara publikasi kalau dikumpulkan dari data jurnal scopus mulai 2004 sampai dengan 2022, hasil risetnya teryata masih kalah jauh dengan negara Malaysia sebanyak 34,2%. Sedangkan Indonesia hanya 13,8% dan negara lainnya 26,7%. Hasil penelusuran Scopus publikasi terkait kelapa sawit bahkan mengklaim Malaysia lebih siap untuk penerapan ekonomi sirkular bidang kelapa sawit dibanding Indonesia.

Hal yang menjadi fokus publikaasi untuk kelapa sawit yang pertama adalah keberlanjutan minyak sawit (sustanable Palm Oil), produsen, dan limbah (waste). Limbah ini sudah menjadi fokus beberapa publikasi terakhir terutama di sekitar 2018 oleh para periset, untuk pengelolaan limbah sawit yang berkelanjutan.

Cara lain dengan menyinergikan kegiatan peternakan dan tanaman khususnya buah melon, jagung, dan beberapa komoditi pertanian yang lain, terutama pisang di wilayah Sumatera.

“Terkait dari penanganan limbah, kalau dilihat dari hasil penelitian terutama yang dari Scopus dan penelusuran dari google scolar, masih terfokus dari beberapa limbah cair. Ini belum terlihat bagaimana memanfaatkan limbah padatnya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan hasil pengamatan para periset BRIN, salah satu permasalahan yakni kenapa hasil riset terkait kelapa sawit kencendurungannya sangat sulit diterima oleh jurnal Q1 International. Bahkan ada salah satu periset yang kegiatannya terkait riset kelapa sawit 13 kali pengajuannya ditolak.

“Ini menjadi fokus untuk mempromosikan riset sawit yang berkelanjutan yang dapat menyakinkan kepada dunia luar, bahwa kelapa sawit masih dapat memenuhi konsep berkelanjutan. Sementara riset-riset di BRIN sudah mulai dibatasi,” urainya.

Lalu ia mengungkapkan juga, menurut hasil penelusuran dari majalah Scopus bahwa hasil riset terkait kelapa sawit di Indonesia hanya 20 per tahun. Walaupun kalau melihat dari laporan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) per tahun sekitar 52 laporan penelitian, namun publikasi internasional masih minim.

“Di BRIN ada beberapa kegiatan Rumah Program terkait pengembangan riset kelapa sawit sepanjang tahun 2020 - 2024 yakni sekitar 10 kegiatan riset dengan pendanaan sekitar 200 juta. Terkait pengolahan limbah sawit kalau kita lihat dari 2 dekade terakhir masih konsentarsi pada limbah cair (pome). Sementara yang terkait dengan abu kelapa sawit baru - baru ini saja, karena kemungkinan teknologinya baru diketemukan,” imbuhnya.

Ini menurutnya menjadi tugas untuk BRIN, khususnya pusat risetnta untuk memanfaatkan limbah dari kelapa sawit yang sangat menjanjikan tersebut. Contohnya seperti untuk pakan ternak sapi, apalagi untuk saat ini pakan untuk sapi makin sulit didapatkan.

Pembicara lain, Mira Rivai yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi IPB, menyampaikan Indonesia merupakan produsen Sawit terbesar di dunia. Hal ini menjadi anugerah yang luar biasa dari Allah SWT kepada Indonesia sehingga perekonomian Indonesia bisa disokong dari sawit.

“Pada tahun 2023 berdasarkan data Dinas Perkebunan bahwa perkebunan sawit di Indonesia mencapai 16,8 juta hektar dengan produksi sekitar 48 juta ton cpo. Terkait data pesebaran minyak kelapa sawit mentah/crude Palm Oil (CPO) Indonesia per propinsi, ranking pertama ditempati oleh Riau, dilanjutkan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat,” tambahnya.

Lebih lanjut Mira menyampaikan, sedangkan grafik luas area pada tahun 2021-2023, produksi TBS olah 2024 mencapai 176 jt, merupakan potensi hasil limbah sawit yg bisa diolah berbagai produk.

“Pengolahan Kelapa minyak sawit dari tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan beragam limbah. Di antaranya yang dapat dimanfaatkan, pelepah, batang, tandan buah segar, cangkang, dan sebagainya. Setiap tahun potensi limbah padat sawit semakin meningkat, sehingga potensial sekali bahan baku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan berbagai produk,” bebernya.

Di samping limbah padat, dalam pengolahan kelapa sawit juga menghasilkan limbah cair Palm Oil Mill Effluent (Pome). “Limbah cair ini bisa dimanfaat sebagai bahan bio energi, pupuk organik, dan lain-lain. Sebuah tantangan berat bagi kita khususnya para periset, bagaimana agar produk produk sekala riset ini dapat semakin ditingkatkan menjadi produk yang dapat dikomersialkan,” pungkasnya.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait