MEDAN, SAWIT INDONESIA - Industri kelapa sawit nasional menghadapi hambatan struktural serius yang berpotensi mengancam dominasi Indonesia di pasar minyak nabati dunia. Dominasi tanaman berusia tua, rendahnya realisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), serta ancaman perubahan iklim menjadi penekan utama produktivitas CPO nasional di tengah melonjaknya konsumsi energi dan pangan domestik.
Peringatan tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, dalam ajang Indonesian Palm Oil Stakeholders Forum (IPOS-Forum) 2026 di Santika Dyandra Premiere Convention Center, Medan, Sumatera Utara, Kamis (29/10/2026).
Dalam paparan bertajuk “Ke Mana Arah Transformasi Industri Sawit Nasional”, Eddy mengungkapkan bahwa produksi CPO Indonesia dalam enam tahun terakhir cenderung stagnan di kisaran 52–56 juta ton per tahun.
Kondisi ini diprediksi kian mengkhawatirkan pada 2027 akibat potensi fenomena El Nino yang berisiko menekan produksi hingga 2–3 juta ton, di samping persoalan mendasar lambatnya peremajaan kebun rakyat.
Poin-poin utama kesenjangan produktivitas hulu, lonjakan kebutuhan mandatori B50, enam langkah strategis GAPKI, serta solusi Ditjenbun Kementan meliputi:
Kesenjangan Produktivitas Perkebunan Rakyat (41% Luas Nasional):
- Luas kebun sawit rakyat mencakup 41 persen dari total 16,8 juta hektare lahan sawit nasional. Namun, realisasi PSR baru mencapai sekitar 38.000 hektare per tahun (21 persen) dari target pemerintah sebesar 180.000 hektare per tahun.
- Produktivitas perkebunan rakyat saat ini rata-rata hanya mencapai 2 ton CPO per hektare per tahun, jauh tertinggal dibandingkan kebun swasta yang melakukan peremajaan secara konsisten hingga 4–8 ton CPO per hektare per tahun. Rata-rata nasional sendiri masih tertahan di 3,1 ton CPO per hektare.
Tekanan Pasokan Ekspor Akibat Mandatori B50:
- Kebutuhan CPO untuk program biofuel diproyeksikan melonjak menjadi 17,4 juta ton pada 2027 seiring implementasi kebijakan B50 (naik 4 juta ton dibanding B40 pada 2025).
- Tanpa adanya kenaikan produktivitas hulu yang memadai, porsi pasokan CPO untuk pasar ekspor berisiko tergerus, yang berpotensi mengurangi pangsa pasar minyak sawit Indonesia (saat ini menguasai 60% produksi global dan 33% pasar minyak nabati dunia) ke komoditas pesaing seperti kedelai, bunga matahari, dan kanola.
Enam Langkah Strategis Transformasi Sawit Nasional:
- Peningkatan produktivitas tanpa ekstensifikasi (intensifikasi lahan).
- Akselerasi PSR melalui kemudahan pembiayaan, administrasi, dan benih unggul.
- Penguatan tata kelola dan keseimbangan pasokan domestik-ekspor.
- Peningkatan daya saing ekspor dan kepastian pasokan mitra dagang.
- Percepatan hilirisasi produk turunan bernilai tambah tinggi.
- Penerapan praktik keberlanjutan dan pencegahan karhutla.
Skema Pendampingan dan Akses Pembiayaan BPDP:
- Ketua Tim PSR Ditjen Perkebunan Kementan, Togu Rudianto Saragih, menekankan bahwa program PSR tidak sekadar meremajakan tanaman tua berusia 30–40 tahun, tetapi menyangkut penyediaan benih unggul, Good Agricultural Practices (GAP), serta kelembagaan petani.
- Dukungan dana BPDP terus dioptimalkan guna mengatasi kendala keengganan petani melakukan replanting akibat hilangnya pendapatan (lost income) selama 3–4 tahun masa tanaman belum menghasilkan (TBM).
Akselerasi peremajaan kebun rakyat dan penguatan tata kelola hulu-hilir menjadi fondasi utama bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengejar target produksi 100 juta ton CPO pada 2045.
Sumber: gapki.id















