Jakarta, SAWIT INDONEISA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi iklim kemarau di tahun 2026 yang menunjukkan sinyal kuat terjadinya musim kemarau lebih awal dan lebih kering di provinsi sentra sawit di Indonesia.
“Fenomena El Niño kategori lemah hingga moderat diprediksi akan muncul pada semester kedua tahun 2026, yang berpotensi memberikan dampak risiko bagi perkebunan di wilayah strategis,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan dalan Ngobrol Bareng GAPKI yang bertemakan “Prediksi Kemarau 2026 dan Dampaknya bagi Industri Kelapa Sawit”, Selasa (7 April 2026).
Ardhasena mengatakan ekitar 46,5% wilayah Zona Musim (ZOM) Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dari normalnya yang dimulai pada periode April-Mei 2026.
"Sebanyak 57,2% wilayah diprediksi akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang, dengan puncak musim kering diperkirakan jatuh pada bulan Agustus mendatang," ungkapnya mengutip laporan tersebut.
Adanya potensi kemarau lebih panjang menjadi tantangan serius bagi produktivitas sawit yang bergantung pada stabilitas curah hujan. Dalam presentasinya, Ardhasena mengutip Laporan BMKG yang menyoroti dampak kemarau panjang di wilayah sentra sawit, yaitu:
- Sumatera (Riau, Jambi, Sumsel, Aceh): Kemarau akan datang lebih awal di Mei-Juni. Dominasi lahan gambut di wilayah ini menjadikannya sangat rawan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
- Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kaltim, Kalsel): Puncak kering terjadi pada Juli-September. BMKG memperingatkan potensi risiko karhutla ekstrem dan penyusutan sungai yang dapat menghambat transportasi logistik TBS dan CPO. Kalteng dan Kalbar rentan terhadap resiko tinggi iklim kering karena lahannya mayoritas gambut.
Ardhasena mengatakan dengan iklim yang "Terlalu Kering" (curah hujan < 150 mm/bulan) akan berdampak terhadap tanaman sawit seperti gangguan fotosintesis, aborsi bunga, dan penurunan hasil panen apabila setelah defisit air memuncak
Selanjutnya, ada 5 langkah mitigasi yang dapat dijalankan pelaku industri sawit. Pertama, penguatan tata kelola air melalui pembangunan embung dan sistem drainase terkontrol untuk menjaga kelembaban tanah, terutama di lahan gambut.
Kedua, pemanfaatan teknologi dengan mengadopsi teknologi prediksi cuaca mikro-klimat untuk menyesuaikan jadwal pemupukan dan panen.
Ketiga, melakukan efisiensi pupuk melalui optimalisasi penggunaan pupuk organik dari limbah sawit (tandan kosong dan POME).
Keempat, membangun sinergi lintas sektordengan penguatankerjasama antar lembaga dalam mitigasi bencana iklim.
Kelima, Implementasi Climate Smart Agriculture Perkebunan Sawit karena kunci kesuksesan di masa depan terletak pada kemampuan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada ekstensifikasi lahan dan fokus sepenuhnya pada peningkatan produktivitas yang cerdas iklim (climate-smart agriculture).
BMKG menegaskan bahwa kunci kesuksesan industri sawit di masa depan tidak lagi terletak pada perluasan lahan, melainkan pada peningkatan produktivitas yang cerdas iklim (climate-smart agriculture) guna meminimalkan kerugian akibat anomali cuaca.














