SAWIT INDONESIA - Sebagai bagian dari implementasi Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2030, PT Teladan Prima Agro Tbk (TPA) menerapkan pendekatan perencanaan replanting berbasis teknologi sebagai bagian dari pengelolaan siklus tanaman secara terstruktur. Inisiatif ini berangkat dari profil umur tanaman Perseroan, di mana terdapat kebun siklus tanaman generasi pertama sejak penanaman awal pada tahun 2004 yang akan mulai masuk klasifkasi tanaman tua. Replanting dalam konteks ini merupakan bagian dari siklus agronomis yang dikelola secara sistematis, dengan pendekatan yang mempertimbangkan aspek operasional dan lingkungan.
Untuk memastikan perencanaan yang terintegrasi dan berbasis data, Perseroan mengambil peran sentral dalam menyusun dan mengelola keseluruhan perencanaan replanting. Pendekatan yang digunakan menggabungkan metode teknis dan pemanfaatan teknologi pemetaan untuk menghasilkan kualitas kebun generasi berikutnya yang lebih unggul.
Dalam merancang lanskap kebun, TPA merumuskan empat aspek fundamental sebagai landasan utama. Pertama, desain yang ergonomis dan ramah terhadap mekanisasi guna meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang. Kedua, penerapan prinsip konservasi tanah dan air menjadi prioritas untuk menjaga keberlanjutan sumber daya. Ketiga, pengelolaan aspek ekologi secara komprehensif guna menjaga keseimbangan biodiversitas dan lingkungan. Keempat, penggunaan bahan tanaman unggul sebagai fondasi peningkatan produktivitas.
Keempat aspek tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain lanskap kebun yang aplikatif di lapangan. Untuk memastikan implementasinya berjalan optimal, diperlukan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi menjadi elemen kunci dalam keseluruhan proses perencanaan.
Perseroan mengadopsi pendekatan berbasis teknologi melalui kombinasi pemanfaatan drone (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan perangkat lunak (Geographic Information System/GIS) untuk pemetaan. Metodologi yang diterapkan mencakup tahapan akuisisi data melalui pemetaan udara, data processing & cleansing untuk memastikan kualitas data, desain lanskap berbasis digital, verifikasi lapangan, hingga finalisasi blueprint sebagai acuan implementasi.
Hasil utama dari pendekatan ini adalah blueprint desain replanting yang yang tersusun secara sistematis. Blueprint tersebut memberikan sejumlah nilai tambah strategis. Pertama, Perseroan dapat memperoleh estimasi volume pekerjaan fisik secara lebih akurat, sehingga mendukung perencanaan investasi dan pengendalian biaya yang lebih disiplin. Kedua, blueprint menghasilkan layout peta yang detail, mencakup kebutuhan infrastruktur dan prasarana seperti jaringan jalan, teras kontur (teras bersambung), sistem drainase dan alur air, serta kebutuhan jembatan dan gorong-gorong. Ketiga, dengan panduan desain yang jelas, pelaksanaan di lapangan menjadi lebih terarah dan efisien, sekaligus mengurangi risiko deviasi dari rencana awal.
Secara keseluruhan, inisiatif Replanting Mapping & Blueprint Design ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik agronomi modern. Langkah ini tidak hanya memperkuat fondasi produktivitas jangka panjang, tetapi juga menunjukkan disiplin Perseroan dalam pengelolaan belanja modal, optimalisasi biaya, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Dengan pendekatan berbasis data dan presisi tinggi, Perseroan menargetkan terciptanya lanskap kebun generasi kedua yang lebih unggul dibandingkan generasi sebelumnya, baik dari sisi produktivitas, efisiensi, maupun keberlanjutan.
Sumber: teladanprima.com














