Penulis : Prof. Sudarsono Soedomo
Selama bertahun-tahun, kelapa sawit dituduh sebagai penyebab utama hilangnya hutan. Narasi ini terus berulang, padahal faktanya jauh lebih kompleks. Ada empat hal penting yang perlu disampaikan secara jujur kepada publik.
Pertama, kelapa sawit tidak pernah menebangi hutan
Sawit adalah tanaman. Ia tidak berpindah, tidak berinisiatif menebang, dan tidak pernah meminta lahan baru. Yang mengambil keputusan menebang hutan adalah manusia—para investor, petani, pemilik modal, dan pemilik lahan yang menilai bahwa menanam sawit lebih menguntungkan daripada membiarkan hutan tetap berdiri.
Kedua, deforestasi terjadi karena pilihan manusia, bukan karena sifat sawit
Jika bukan sawit, manusia tetap dapat menebang hutan untuk menanam apa saja: kopi, karet, cokelat, sengon, eukaliptus, bahkan untuk membangun perumahan, tambang, dan jalan. Menyalahkan sawit seakan-akan ia punya “kehendak” adalah penyederhanaan yang menutup akar masalah: keputusan ekonomi dan tata kelola lahan.
Ketiga, deforestasi bukan fenomena Indonesia
Australia kehilangan hutan untuk padang penggembalaan. Amerika Utara menggundulkan hutan untuk industri kayu dan pertanian mekanis. Eropa sudah lama menghilangkan sebagian besar hutannya jauh sebelum kelapa sawit dikenal dunia. Jika sawit yang disalahkan, bagaimana menjelaskan deforestasi di negara-negara yang bahkan tidak memiliki satu pohon sawit pun?
Ini menunjukkan satu hal: deforestasi terjadi karena tekanan ekonomi dan tata ruang yang tidak seimbang, bukan karena jenis tanamannya.
Keempat, dan inilah inti persoalan: hutan memiliki nilai ekonomi paling rendah dibandingkan semua penggunaan lahan lainnya
Selama kayu dihargai rendah, jasa lingkungan tidak dihitung, dan karbon tidak dianggap aset, hutan akan selalu kalah bersaing dengan komoditas yang menghasilkan uang cepat. Inilah alasan utama mengapa hutan tergusur—bahkan di tempat yang tidak ada sawit dan tidak ada perkebunan.
Selama hutan dihargai “nol”, sementara komoditas pertanian dihargai tinggi, manusia akan selalu terdorong menggantinya. Sawit hanyalah salah satu pilihan ketika insentif ekonomi mengarah ke sana.
Karena itu, solusi yang perlu kita bangun bukan memusuhi sawit, tetapi menaikkan nilai ekonomi hutan itu sendiri, agar hutan menjadi pilihan yang layak dan menguntungkan untuk dipertahankan.
Menjadikan sawit sebagai kambing hitam hanya mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang lebih penting: Mengapa ekonomi kita membuat hutan selalu kalah?
Jika kita berani menjawab pertanyaan itu, masa depan hutan Indonesia akan jauh lebih jelas—dan lebih jujur. Menyalahkan sawit itu ibarat buruk muka cermin dibelah.














