Jakarta, SAWIT INDONESIA – Sekjen DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Dr. Rino Afrino mengkhawatirkan kenaikan harga pupuk sawit sebagai dampak dari konflik di timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pasalnya, konflik ini terus meluas yang berimbas kepada sejumlah negara lainnya.
“Kami sangat mengkhawatirkan kenaikan harga pupuk. Sebagian besar pupuk ini diambil dari kegiatan impor,” ujar Rino saat menjadi Pembicara Focus Group Discussion (FGD) “Kampanye Sawit Baik Bersama Media” yang digelar Sawitsetara.co di Ruang Rapat Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Rino menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormutz sebagai dampak dari konflik menjadikan pasokan minyak bumi sulit didistribusikan kepada negara lain.
“Kami sudah infokan kepada rekan-rekan untuk mengantisipasi naiknya harga pupuk. Petani sawit memang tahan banting. Tetapi, kita belum tahu konflik ini sampai kapan. Kalaupun (petani) tahan banting seberapa kuat mereka mampu bertahan,” ujar Doktor lulusan Universitas Riau ini.
Karena itulah, dikatakan Rino, APKASINDO menyarankan petani sawit agar segera membeli pupuk tahun ini.”Kami infokan kepada rekan petani, Bersiap-siap terjadi kenaikan harga pupuk,” jelasnya.
Sebagai informasi, Kawasan Teluk ditempati beberapa pabrik pupuk terbesar di dunia. Sementara, Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi sepertiga perdagangan pupuk di pasar global. Kekhawatiran harga pupuk semakin tinggi sangatlah relevan karena sebelum konflik terjadi sudah terjadi kenaikan harga.
Merujuk laman farmprogress.com, dampak dari konflik sudah dirasaka semenjak Senin kemarin (2 Maret 2026). Ketika Qatar menutup produksi gas alam cair di fasilitas ekspor terbesar di dunia setelah menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak Iran. Gas alam merupakan bahan baku penting untuk pupuk berbasis nitrogen.
Qatar merupakan sumber sekitar 11% ekspor urea global, dan hampir 45% dari pengiriman tersebut berasal dari fasilitas di Teluk Persia secara lebih luas, menurut Alexis Maxwell, seorang analis di Bloomberg Intelligence.
StoneX, lembaga keuangan internasional, bahwa tiga dari 10 eksportir amonia terbesar di dunia dan satu dari lima pemasok fosfat teratas bergantung pada Selat Hormuz.














