Accra, SAWIT INDONESIA — Pekan lalu, DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berkesempatan untuk mengunjungi perkebunan petani sawit di Ghana. Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL., selaku Head of International Relations dan People Development, mendapatkan kepercayaan untuk mewakili APKASINDO sebagai pembicara agenda Ghana Tree Crops Investment Summit & Exhibition 2026 (GTCIS 2026).
Dalam agenda tajaan Tree Crops Development Authority (TCDA) bertajuk “Opportunities in the Oil Palm Value Chain” yang digelar di Accra International Conference Centre, Accra, itu mempertemukan regulator, investor, dan pelaku industri untuk membicarakan masa depan rantai nilai sawit. Namun bagi Djono, perjalanan 20 jam dari Indonesia ke Ghana tak berhenti di ruang konferensi.
Perjalanan dari Accra, ibukota Ghana, menuju perkebunan sawit ditempuh oleh Djono sekitar 3 jam lamanya dari pusat ibu kota. Di sana, ia mencoba memvalidasi sejumlah temuan yang muncul dalam diskusi GTCIS 2026—dan menemukan kenyataan yang lebih getir.
“Selama di Afrika, saya menyempatkan diri berkeliling ke kebun petani kelapa sawit di Ghana,” ujar Djono, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, APKASINDO —organisasi yang aktif mendorong kesejahteraan petani sawit global—terus membangun relasi dengan industri sawit lintas negara dan memperjuangkan kesejahteraan petani sawit berlandaskan data dan fakta.
“Arahan bapak Ketua Umum Dr. Gulat Medali Emas Manurung, MP, C.IMA, C.APO dan Pak Sekjend Dr. Rino Afrino, ST., MM, jelas, kita harus memperkuat dukungan kepada petani sawit dengan konsep kesetaraan dan naik kelas, itulah alasan saya berkeliling ke daerah sentral perkebunan sawit petani secara langsung di Ghana,” ujarnya.
Di kebun-kebun rakyat itu, Djono mendapati produktivitas yang jauh dari ideal. “Produktivitas petani kelapa sawit di Ghana sangat-sangat rendah, berkisar antara 4 sampai 8 ton per hektare per tahun,” katanya. Angka itu terpaut lebar dari potensi genetik tanaman sawit modern yang bisa berlipat ganda hingga 20 ton TBS per hektar per tahun.
Begitupula kelembagaan petani setemapt sangat rapuh. Dari total sekitar 500 ribu hektare lahan sawit Ghana—sekitar 70 persen di antaranya dikelola petani—hanya sekitar 5 persen yang terorganisasi dalam kelembagaan formal. Selebihnya berjalan sendiri-sendiri.
Djono juga menemukan pola pemasaran yang berbeda. Tandan buah segar (TBS) petani tidak seluruhnya mengalir ke pabrik kelapa sawit skala besar. “Petani kelapa sawit di Ghana menjual TBS-nya ke artisanal processing,” ujarnya. Unit-unit pengolahan tradisional itu memproses buah menjadi red oil—minyak makan merah—yang langsung dijual ke pasar untuk kebutuhan konsumsi harian masyarakat.
Ada ironi di sana. Jarak terbang Indonesia–Ghana memang terpaut 20 jam. Namun persoalan yang dihadapi petani sawitnya serupa. “Petani sawit Indonesia dan Ghana memiliki kesamaan, yaitu inklusivitas petani menjadi tantangan yang harus diselesaikan jika ingin mencapai keberlanjutan kelapa sawit,” kata Djono.
Menurut dia, keinginan berubah sebenarnya ada. “Apakah petani sawit di Ghana ingin berlembaga? Jawabannya ingin. Apakah ingin menjual TBS langsung ke PKS? Jawabannya iya. Apakah ingin meningkatkan kemampuan dalam good agricultural practice? Jawabannya iya.”
Masalahnya, kata Djono, dukungan pemangku kepentingan masih rendah. Akses pembiayaan terbatas. Harga pupuk mahal. Banyak petani memilih tak memupuk sama sekali—pilihan yang berdampak langsung pada rendahnya produktivitas.
Dengan hasil 4 ton TBS per hektare per tahun, pendapatan petani jelas tak mencukupi. “Kalau ditanya apakah cukup 4 ton itu pendapatan tahunan untuk petani kelapa sawit, jawabannya tidak,” ujarnya. Karena itu, sebagian petani ikut bekerja di artisanal processing untuk menambal penghasilan.
Kunjungan itu menjadi semacam cermin. Di forum internasional, sawit dibicarakan sebagai komoditas strategis dan sumber investasi. Di kebun rakyat, ia tetap memiliki tantangan dengan soal klasik: produktivitas, kelembagaan, dan akses dukungan. Inklusivitas petani adalah syarat mutlak keberlanjutan.
“Petani sawit Indonesia jauh diatas produktivitas dan kelembagaan dari Petani Sawit Ghana. Dukungan dan kerjasama sesama stakeholdrs sawit juga di Ghana sangat mini,” pungkas Djono.






