• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Petani Ajak Greenpeace Bantu Mitigasi Dampak Bencana, Bukan Sudutkan Sawit

YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA - Serangkaian banjir besar yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh kembali memicu perdebatan lama soal peran perkebunan sawit terhadap kerusakan lingkungan. Namun Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Gulat ME Manurung, menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan justru mengalihkan perhatian dari persoalan utama yaitu kerusakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat praktik illegal logging dan perizinan sektor pertambangan.

Gulat menilai narasi yang menyalahkan perkebunan sawit hanya memperkeruh diskusi publik, tanpa melihat fakta lapangan.

“Kita melihat tidak ada satu batang pun pohon sawit terhanyut banjir. Jadi bukan di kebun sawit masalahnya, tapi di hulu,” ujarnya dari Kampus Instiper Yogyakarta (9 Desember 2025).

“Buktinya kayu-kayu yang digergaji mesin justru turun ke perkampungan dan memenuhi sungai. Saya dengar kawan-kawan dari Greenpeace malah menyudutkan sawit. Mari kita bicara fakta —jangan nanti yang sakit di mana, yang diobati di mana,” tegas Gulat sembari mengajak semua penggiat lingkungan supaya fokus ke mitigasi pasca bencana alam.

Dr. Gulat mengaku telah melihat rekaman drone terbaru dari lokasi banjir. Hasilnya, tidak ditemukan kebun sawit di sekitar jalur aliran DAS yang meluap.

“Kemarin saya saksikan video drone, ternyata tidak ada sawit di sekitar aliran DAS yang meluap, justru ribuan batang kayu industri dan kayu alam yang dipotong-potong dengan menggunakan gergaji mesin,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sekaligus membuktikan bahwa tudingan sawit sebagai penyebab banjir tidak memiliki dasar ilmiah.

Gulat juga menjelaskan secara teknis bahwa kebun sawit tidak relevan sebagai penyebab banjir di daerah pegunungan karena tanaman sawit secara ekologis tidak cocok ditanam di kawasan berbukit curam.

“Sawit tidak mungkin ditanam di bukit, tidak bisa tumbuh. Orang juga tidak mau menanam di sana—bagaimana mau mengeluarkan buahnya dari atas? Jadi harus berdasarkan teori untuk menjelaskan kenapa terjadi banjir,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa petani sawit justru berada di wilayah hilir, jauh dari area sumber banjir namun saat ini justru berada diposisi terdampak.

Lebih lanjut, Gulat menyebut bahwa temuan lapangan sudah sejalan dengan laporan resmi pemerintah. Kementerian Kehutanan, kata dia, mengakui adanya aktivitas illegal logging di kawasan hulu yang menjadi penyebab utama kerusakan DAS.

“Alam bicara. Sungai membawa kayu, balok, dan diakui Kemenhut sebagai illegal logging, termasuk izin-izin yang mereka berikan sendiri,” katanya.

APKASINDO mendesak pemerintah agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kawasan hutan, termasuk pengawasan izin pemanfaatan kayu dan penegakan hukum terhadap pelaku illegal logging.

"Nggak perlu ilmu tinggi dan uji laboratorium untuk membuktikan itu dan saya melihat Aparat Penegak Hukum serta Satgas PKH sudah sedang bekerja di lapangan, tunggulah hasil penyelidikan dan investigasinya. Sekali lagi stop menyudutkan perkebunan sawit, mari kita fokus membantu dan mitigasi dampak bencana alam," pungkasnya.

Artikel Terkait