Makassar, SAWIT INDONESIA – Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 mendapat apresiasi dari para peserta. Program yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) tersebut diikuti 59 peserta yang terdiri atas pekebun, penyuluh, dan pendamping dari Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Salah seorang peserta, Ismail, mengaku dirinya bersama rekan-rekan sesama petani awalnya menganggap materi pelatihan tidak akan jauh berbeda dengan praktik berkebun yang selama ini mereka lakukan di lapangan. Namun, pandangan itu berubah setelah mengikuti proses pembelajaran yang disampaikan para instruktur AKPY.
"Awalnya kami berpikir, untuk apa lagi mengikuti materi seperti ini, karena sehari-hari kami sudah bertani. Tetapi setelah mengikuti pelatihan, ternyata banyak sekali kesalahan yang selama ini kami lakukan dalam mengelola kebun sawit," ujar Ismail.
Menurutnya, pelatihan memberikan pemahaman yang lebih sistematis mengenai teknik budidaya kelapa sawit, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga pemupukan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting untuk memperbaiki praktik budidaya ketika kembali ke daerah masing-masing.
"Kami berkomitmen setelah pulang nanti akan memperbaiki cara berkebun sesuai dengan materi yang telah kami pelajari. Ternyata banyak hal yang sebelumnya kami anggap benar, tetapi setelah dijelaskan instruktur, ada teknik yang jauh lebih baik dan sesuai kaidah budidaya sawit yang benar," katanya.
Ismail juga berharap program pengembangan SDM bagi pekebun sawit dapat terus berlanjut. Menurutnya, peserta angkatan yang diikutinya baru menerima beragam materi hingga pemupukan yang berkaitan dengan teknis budidaya, sehingga masih membutuhkan pelatihan lanjutan mengenai panen dan pascapanen agar pemahaman yang diperoleh menjadi lebih utuh.
"Kami berharap Dinas Pertanian dapat memfasilitasi pelatihan lanjutan, khususnya materi panen dan pascapanen. Dengan begitu, ilmu yang kami dapatkan menjadi lengkap dan bisa langsung diterapkan di kebun," ungkapnya.
Selain memperoleh pengetahuan teknis, Ismail menilai pelatihan juga mempererat kebersamaan antarpekebun dari Luwu Utara. Menurutnya, semangat saling belajar dan berbagi pengalaman selama pelatihan menjadi modal penting untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pengelolaan kebun sawit di daerahnya.
Ia optimistis penerapan teknik budidaya yang benar akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas tandan buah segar (TBS), yang pada akhirnya turut mendukung peningkatan nilai ekonomi sawit petani.
"Perjuangan kami sebenarnya baru dimulai setelah kembali ke Luwu Utara. Ilmu yang kami peroleh harus kami terapkan di kebun agar produktivitas meningkat dan kualitas TBS menjadi lebih baik. Kalau kualitas semakin baik, tentu kami berharap harga sawit petani di Luwu Utara juga bisa ikut meningkat," pungkas Ismail.






