Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, meminta Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) untuk memberikan data tengkulak/loading ramp di luar pabrik sawit yang memainkan harga petani. Pernyataan ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Perkembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang dipimpin Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kementerian Pertanian, Senin (8 Juni 2026).
Ketua Umum APKASINDO Dr. Gulat ME Manurung mengatakan memang sudah ada pemulihan harga TBS sudah terlihat di berbagai sentra produksi sawit. Di Sumatera, harga TBS telah pulih sekitar 80 persen, sementara di Kalimantan mencapai 70 persen.
Meski harga mulai membaik, Gulat menilai masih ada persoalan di tingkat pengumpul atau tengkulak yang menyebabkan kenaikan harga belum sepenuhnya dirasakan petani.
"Kalau kami pelajari, benar seperti yang disampaikan teman-teman petani tadi, RAM atau pengumpul atau tengkulak ini. Walaupun sebenarnya pabrik kelapa sawit ini sudah memberikan harga yang baik," ujarnya.
Karena itu, APKASINDO mengusulkan agar pemerintah melakukan penertiban terhadap para RAM/pengumpul yang diduga masih mengambil margin terlalu besar sehingga harga TBS di tingkat petani belum sepenuhnya pulih.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta APKASINDO dan petani menyerahkan data pihak-pihak yang diduga memainkan harga.
"Nanti serahkan nama siapa-siapa saja tengkulak ini. Saya akan tertibkan," kata Amran.
Dalam kesempatan yang sama, Gulat juga mengungkapkan hasil kunjungannya ke Sulawesi Tengah. Menurutnya, anjloknya harga TBS beberapa waktu lalu tidak hanya dipengaruhi rantai perdagangan di tingkat petani ke RAM/PERON tapi secara umum saling berhubungan sampai ke eksport. Kondisi ini juga dibenarkan oleh GAPKI ketika rapat dengan Mentan bahwa korporasi ‘kaget’ atas rencana tata kelola ekspor CPO dan turunannya.
"Saya juga ke Sulawesi Tengah kemarin ternyata yang membuat harga TBS anjlok karena pabrik sawit serentak tanpa dirigen itu yang membeli murah TBS petani," kata Gulat.
Provinsi paling tinggi persentase pemulihannya adalah Prov Banten, dimana harga tbs petani khususnya sejak tanggal 5 Juni berkisar Rp2.500-Rp2550, sebelum ambruk Rp2.400, saat ambruk Rp2.000/kg, sehingga persentase pemulihan di angka 110%.
Harga tersebut di Banten sudah sangat bagus meskipun jika dibandingkan dengan provinsi di Sumatera masih tergolong rendah.
“Kami petani sawit tidak mematok sekian sekian harga TBS kami, tapi disesuaikan ke harga CPO yang sebenar-benarnya,” tambah Gulat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat pemerintah berupaya mengidentifikasi penyebab belum pulihnya harga TBS secara penuh di tingkat petani meskipun harga CPO mulai membaik.
Menanggapi laporan itu, Amran menegaskan persoalan tersebut akan menjadi perhatian pemerintah. "Baik, itu sudah jadi urusanku. Urusan negara itu," kata Amran.














