• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Pertamina Patra Niaga Usulkan Penyeragaman Mekanisme FAME dan Satu Harga Tertimbang Demi Distribusi B50 yang Adil

Jakarta, SAWIT INDONESIA - PT Pertamina Patra Niaga mendorong adanya perubahan mekanisme penyaluran bahan baku biodiesel B50, yakni fatty acid methyl ester (FAME), di tingkat terminal bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diusulkan untuk mengoptimalkan efisiensi operasional serta menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih sehat di antara badan usaha penyalur.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat dua skema distribusi B50 yang tengah berjalan. Di satu sisi, Pertamina menerima bahan baku FAME secara langsung di 40 terminal BBM. Di sisi lain, sebagian terminal BBM lainnya justru menerima produk yang sudah tercampur dalam bentuk Biosolar B50.

Selain masalah titik penerimaan, tantangan operasional kian kompleks karena FAME yang masuk terbagi menjadi dua kategori, yakni FAME subsidi dan FAME nonsubsidi. Pertamina lantas berharap pemisahan antara kuota subsidi dan nonsubsidi idealnya baru dilakukan setelah produk tersebut resmi disalurkan kepada konsumen akhir.

"Kondisi ini sama dengan yang dilakukan atas produk biosolar. Jadi produk biosolar yang masuk di terminal Pertamina Patra Niaga itu belum dipisahkan biosolar yang subsidi maupun biosolar yang non-subsidi," jelas Mars dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026). Pendekatan ini dinilai akan memberikan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi bagi perusahaan dalam merespons fluktuasi permintaan di lapangan.

Tantangan Geografis dan Logistik Terminal BBM

Dalam kesempatan yang sama, Mars juga menyoroti berbagai kendala teknis di sektor logistik. Sebanyak 17 terminal BBM Pertamina yang berada di dalam alur sungai dinilai rawan mengalami pendangkalan, yang berpotensi menghambat kelancaran pasokan BBM maupun FAME, khususnya untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil (remote area).

Kendala geografis lainnya berkaitan dengan jarak antara sumber pasokan FAME dan outlet penjualan yang kerap terpaut cukup jauh. Untuk mengatasi disparitas biaya akibat faktor jarak tersebut, Pertamina mengusulkan agar pemerintah memberlakukan perlakuan yang setara (equal treatment) bagi seluruh badan usaha pengadaan FAME melalui penerapan satu harga tertimbang.

"Kami berharap terjadi perlakuan yang sama karena Pertamina Patra Niaga bukan satu-satunya badan usaha yang mendistribusikan atau memasarkan produk biosolar B50, sehingga harapan kami ada satu harga tertimbang yang dapat diberlakukan sama antara Pertamina Patra Niaga maupun badan usaha lainnya. Di sini akan terjadi kompetisi yang adil dari sisi pengadaan FAME," tegas Mars.

Cakupan Distribusi B50 Nyaris Sempurna

Terlepas dari berbagai tantangan logistik dan pengadaan tersebut, proses penyaluran B50 secara nasional terpantau berjalan lancar tanpa kendala berarti, selain tantangan disparitas harga antara Biosolar B50 bersubsidi dan produk nonsubsidi lainnya.

Cakupan distribusi di tingkat hilir pun menunjukkan progres yang sangat masif. Berdasarkan data hingga 5 September 2026, sebanyak 6.050 dari total 6.412 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) penyalur biosolar telah beralih menggunakan B50, yang berarti tingkat penetrasi nasional telah menyentuh angka 94%.

Sementara itu, dari total 121 terminal BBM yang dikelola Pertamina Patra Niaga, sebanyak 120 terminal telah sukses menyalurkan B50. Hanya tersisa satu terminal yang masih mendistribusikan produk B40, yakni terminal di Sintang, Kalimantan Barat, akibat kendala alur sungai yang menyusut dipicu oleh musim kemarau.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait