• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Pertamina Patra Niaga Sulap Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Gandeng Program Makan Bergizi Gratis hingga Masyarakat

Cilacap, SAWIT INDONESIA - PT Pertamina Patra Niaga mengambil langkah progresif dalam transisi energi hijau dengan mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel / SAF) di Kilang Pertamina RU IV Cilacap, Jawa Tengah. Inovasi ini dibarengi dengan pembangunan ekosistem pengumpulan UCO berskala luas, termasuk bersinergi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan dua skema bisnis utama untuk mengumpulkan pasokan minyak jelantah. Skema pertama adalah Business to Customer (B2C) yang menyasar masyarakat luas, komunitas, hingga perwira Pertamina melalui penyediaan fasilitas dispenser khusus minyak jelantah di berbagai titik strategis seperti lingkungan kilang dan pusat perbelanjaan.

Sementara itu, untuk mengamankan volume pasokan yang lebih besar, Pertamina menerapkan skema Business to Business (B2B). Skema ini memperluas jejaring pengumpulan dengan menggandeng sektor industri pendukung, mulai dari Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), hingga optimalisasi dari SPPG yang menjadi bagian dari Program MBG.

"Pengumpulan UCO dari masyarakat memiliki keterbatasan kapasitas, sehingga kami membutuhkan kerja sama dengan pihak lain yang dapat menyediakan atau mengumpulkan minyak jelantah dalam skala lebih besar," ujar Hermawan dalam Media Gathering Pertamax Journey Cilacap—Yogyakarta.

Langkah pengolahan UCO menjadi SAF ini merupakan kelanjutan dari konsistensi Pertamina dalam mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan. Sebelumnya, Kilang Cilacap telah merintis Biojet Fuel sejak Desember 2020 melalui uji coba co-processing menggunakan bahan baku turunan minyak sawit (Refined, Bleached, Deodorized Palm Kernel Oil / RBDPKO) dengan injeksi awal 2% yang kemudian ditingkatkan menjadi 2,4%.

Rangkaian uji coba tersebut sukses mencatatkan sejarah penting bagi aviasi nasional, mulai dari uji terbang militer menggunakan pesawat CN-235 rute Jakarta—Bandung pada Oktober 2021, hingga uji coba penerbangan komersial bersama Garuda Indonesia menggunakan Boeing 737-800NG rute Jakarta—Solo pada Juli 2023.

Memasuki babak baru, Pertamina memperbarui teknologi pengolahan dengan memanfaatkan bahan baku UCO yang dipadukan dengan Katalis Merah Putih hasil inovasi Research & Technology Innovation (RTI) Pertamina. Setelah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA pada 2024 serta merampungkan serangkaian uji coba dan sertifikasi unit pengolahan, Kilang Cilacap akhirnya sukses mencatatkan produksi perdana SAF berbahan baku minyak jelantah pada Juli hingga Agustus 2025.

Melalui pengembangan ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir ini, Pertamina tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional dan dekarbonisasi sektor penerbangan, tetapi juga menggerakkan partisipasi aktif masyarakat dan sektor publik dalam ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait