Rendahnya produktivitas kelapa sawit yang disebabkan menurunnya serangga penyerbuk pada tanaman kelapa sawit. Kondisi ini mendorong Salmiyati sebagai Dosen Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) untuk mencari solusinya.
Adalah Salmiyati, dosen dan peneliti dari Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesiadi Pelalawan, Provinsi Riau, bersama timnya berinovasi menciptakan sebuah produk revolusioner untuk mendukung sektor perkelapasawitan yaitu Elaeis Pollens Product.
Salmiyati bersama tim inovator muda yang menamakan Trio Pollen, terdiri dari Imelda Musdalifa, S.P, Dewi Andri Yani, S.P, dan Mawaddah Tujannah, S.P, menghadirkan produk sebagai solusi strategis terhadap tantangan menurunnya populasi serangga penyerbuk alami seperti Elaeidobius Kamerunicus, yang selama ini menjadi andalan dalam proses penyerbukan tanaman sawit.
Produk yang diciptakan berbasis riset mendalam dan uji coba lapangan yang berkelanjutan, Elaeis Pollens menawarkan serbuk sari kelapa sawit. Produk ini dihadirkan khusus untuk mendukung penyerbukan buatan (assisted pollination), terutama pada lahan kelapa sawit muda dan kawasan dengan kondisi lingkungan ekstrem.
“Elaeis PollensProduct direncanakan sejak akhir tahun 2024. Mulai dilakukan penelitian pada April hingga Juni 2025,” ungkap tim Tio Pollen dalam jawaban yang diterima redaksi Majalah Sawit Indonesia, pertengahan Juli 2025.
Yang menjadi pertimbangan dalam penelitian ini adalah menurunnya produksi Tandan Buah segar (TBS) kelapa sawit. Jadi dengan adanya Elaeis Pollens Product ini diharapkan dapat membantu dalam proses penyerbukan buatan (assisten pollination) sehingga mampu mendongkrak hasil TBS. Banyak yang turut mendukung penelitian ini yaitu dari akademik Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I), perusahaan turut berkontribusi seperti RAPP, Surya Bratasena Plantations, dan juga masyarakat.
“Produk ini kami formulasikan secara khusus untuk menjaga viabilitas serbuk sari, meningkatkan efisiensi aplikasi di lapangan, dan tentu saja, menjamin peningkatan signifikan dalam produksi tandan buah segar (TBS),” ujar Salmiyati, M.Pd, Ph.D., saat konferensi pers peluncuran produk di Kampus ITP2I, Senin, 21 Juli 2025.
Elaeis Pollens product mengandung pollen yaitu serbuk sari bunga jantan kelapa sawit yang telah diuji viabilitasnya dan kemampuan tumbuh dan membuahinya.
“Isi satu kemasan botol Elaeis Pollens adalah 10 gram. Saat ini, kami sedang memproses pengajuan HKI-nya,” kata Salmiyati.
Elaeis Pollens Product dapat diaplikasikan pada bunga betina kelapa sawit yang sedang anthesis (produktif untuk dibuahi). Selanjutnya, dapat diaplikasikan secara manual (assisted pollination) dengan bantuan manusia, bantuan serangga Elaeidobius Kamerunicus, dan bantuan angin. Sedangkan aplikasi dengan menggunakan drone sedang dalam tahap mencari mitra untuk uji dilapangan.
Cara mengaplikasikannya secara manual: Kocok botol sebelum digunakan. Aplikasikan pada pagi hari pada saat bunga mekar penuh atau ke bunga betina yang siap diserbuki menggunakan kuas, waktu pengaplikasian yaitu pukul 7.00-11.00, Hindari pengaplikasian pada siang hari karena dikhawatirkan terjadi penguapan yang dapat mengurangi efektivitas penyerbukan.
Saran berikutnya adalah disimpan pada suhu dingin sebelum digunakan Hindari paparan langsung sinar matahari.
Faktor iklim (cuaca), penyerbukan pada musim hujan dapat mengalami kendala karena curah hujan yang tinggi berpotensi menghilangkan polen sebelum mencapai kepala putik, sehingga mengurangi efisiensi proses penyerbukan.
Salmiyati mengatakan faktor yang dapat mendukung keberhasilan penyerbukan seperti cuaca di mana penyerbukan paling efektif saat cuaca cerah. Hujan bisa menghambat penyebaran serbuk sari. Selain itu, waktuideal dilakukan pagi hari sebelum hujan atau angin kencang datang. Lalu, penyerbukan harus dilakukan saat bunga betina siap menerima serbuk sari, jadi kualitas dan kesegaran polen sangat menentukan keberhasilan pembuahan.
Demplot yang kami laksanakan saat ini masih di kebun masyarakat, sedang diupayakan dengan perusahaan untuk skala lebih luas. Tapi belum pada tahap mengukur parameter. Untuk jumlah serangganya belum dikalkulasikan tapi lebih pada memanfaatkan serangga yang ada saat ini.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 166)














