Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dan komoditas global. Tidak hanya mendorong lonjakan harga minyak mentah, konflik antara Israel dan Iran juga memicu kenaikan signifikan pada harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), yang kini semakin dilirik sebagai alternatif energi nabati di tengah krisis energi global.
Pada penutupan perdagangan Jumat (13/6/2025), harga CPO di Bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman Agustus tercatat melonjak 2,29% menjadi MYR 3.927 per ton—level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sepanjang minggu lalu, meski penguatan mingguan hanya 0,26%, tren naik ini menunjukkan bagaimana eskalasi konflik mulai berdampak pada pasar-pasar komoditas strategis.
Peningkatan harga CPO tak bisa dilepaskan dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent, misalnya, ditutup melesat 7,5% ke level US$ 74,56 per barel—harga tertinggi sejak awal April 2025. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global akibat konflik militer yang kian memanas.
Dengan harga minyak fosil yang makin tidak stabil, CPO sebagai bahan baku utama biofuel kian menjadi sorotan. Negara-negara pengimpor besar seperti India dan China pun diperkirakan akan memperkuat diversifikasi energinya ke arah sumber yang lebih berkelanjutan dan bisa diproduksi secara domestik seperti biodiesel berbasis sawit.
Serangan balasan antara Israel dan Iran tidak hanya menimbulkan korban dan kerusakan di wilayah tersebut, tetapi juga memunculkan kekhawatiran global akan gangguan distribusi energi. Pernyataan keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan janji pembalasan dari Teheran memunculkan risiko jangka panjang terhadap stabilitas harga energi dunia.
Konflik ini menjadi peringatan penting bagi negara-negara konsumen energi untuk meningkatkan ketahanan energi—termasuk melalui investasi di energi terbarukan dan bioenergi berbasis pertanian.
Secara teknikal, meski ada lonjakan harga, CPO masih berada dalam tren bearish jangka pendek. Indikator Relative Strength Index (RSI) harian berada di level 43, menunjukkan tekanan jual masih cukup besar. Sementara indikator Stochastic RSI di level 38 mengonfirmasi posisi aset berada di area jual yang kuat.
Untuk perdagangan jangka pendek, pelaku pasar perlu mencermati level support di MYR 3.890–3.861 per ton dan resisten di kisaran MYR 4.031–4.310 per ton.






