Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Pengalaman menjadi modal penting bagi pekebun sawit. Namun, menghadapi tuntutan produktivitas dan kualitas, pengalaman saja tidak lagi cukup.
Pekebun perlu memadukannya dengan data, ilmu, dan standar teknis agar keputusan di kebun tidak hanya berdasarkan kebiasaan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, saat menutup Pelatihan Teknis Budidaya dan Panen & Pascapanen Kelapa Sawit bagi 160 peserta asal Kabupaten Seluma, Senin (24 Agustus 2026).
Pelatihan dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 itu terdiri atas tiga kelas Teknis Budidaya dengan 100 peserta dan dua kelas Panen & Pascapanen dengan 60 peserta.
“Pengalaman saja tidak cukup untuk era saat ini. Pengalaman itu harus juga melihat data, melihat rujukan ilmu,” kata Dr. Idum.
Menurutnya, ilmu bukan untuk menggantikan pengalaman pekebun, tetapi memperkuatnya sehingga praktik di kebun dapat dievaluasi dan diperbaiki.
Field Trip Jadi Cermin
Salah satu kegiatan penting dalam pelatihan adalah field trip. Pekebun diajak melihat langsung kondisi kebun, praktik pengelolaan, hingga standar kualitas TBS sebagai pembanding.
Menurut Dr. Idum, pembanding diperlukan karena pekebun terkadang merasa kebunnya sudah baik, padahal masih ada yang perlu diperbaiki.
“Kadang kita melihat diri kita yang paling bagus, buah kita itu paling bagus. Tetapi rendemennya kok seperti ini terus,” ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan rendemen harus dimulai dari kebun, melalui budidaya, panen, hingga penanganan TBS yang benar.
Pelatihan juga mendorong pekebun mengubah cara mengambil keputusan. Kondisi tanaman, kebutuhan hara, target produksi, dan kondisi lapangan perlu menjadi dasar dalam menentukan tindakan.
Dalam pemupukan, misalnya, target produksi harus diikuti pemenuhan kebutuhan tanaman secara tepat.
“Bapak pengen produksinya bagus tapi pelit nggak kasih pupuk. Tanaman itu bisa berbicara sebetulnya kepada kita,” kata Dr. Idum.
Oleh karena itu, pemupukan bukan sekadar banyak atau sedikit, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan target produksi.
Ilmu Harus Dipraktikkan
Dr. Idum berharap ilmu selama enam hari pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan tersebut harus dibawa pulang dan diterapkan di kebun.
“Ilmu akan terasa lebih keren kalau dipraktikkan sepenuh hati,” katanya.
Bagi pekebun Seluma, naik kelas tidak selalu berarti menambah lahan atau input produksi. Langkah itu bisa dimulai dengan mengelola kebun secara lebih terukur: membaca data, memahami kondisi tanaman, mengikuti standar teknis, dan belajar dari kebun yang lebih baik.
Dengan memadukan pengalaman dan ilmu, pekebun diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menghasilkan TBS yang lebih berkualitas dan bernilai.














