Asian Agri menegaskan komitmennya dalam penyediaan benih kelapa sawit unggul melalui varietas Topaz 1, yang diklaim memiliki produktivitas tinggi, rendemen minyak optimal, serta adaptif terhadap berbagai kondisi lahan. Hal ini disampaikan oleh Yopy Dedywiryanto, Head of Plant Breeding Asian Agri, dalam wawancara terkait performa dan karakteristik varietas tersebut dengan Majalah Sawit Indonesia, Senin (10 November 2025).
Topaz 1 merupakan hasil persilangan Dura Deli × Pisifera Nigeria. Menurut Yopy, keunikan utama varietas ini terletak pada dua tipe warna buah yang dihasilkannya—hitam (nigrescens) dan hijau (virescens). Buah hijau akan berubah menjadi oranye saat matang, sementara buah hitam akan berubah menjadi merah.
“Topaz 1 juga memiliki cangkang yang sangat tipis, sehingga memberikan keuntungan langsung pada tingginya persentase minyak dalam setiap tandan,” ujarnya.
Topaz 1 dikenal sebagai varietas dengan tonase tandan buah segar (TBS) tinggi. Kombinasi antara jumlah tandan yang banyak dan bobot tandan yang besar membuat performanya unggul di tingkat kebun maupun pabrik.
“Banyak varietas hanya bisa menghasilkan banyak tandan tetapi ukuran kecil. Topaz 1 tidak demikian. Meski jumlah tandannya tinggi, ukuran tandannya tetap besar,” jelas Yopy.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan tinggi batang yang lambat juga menjadi nilai tambah karena menekan biaya panen serta memperpanjang umur ekonomis tanaman.
Meluruskan Misinformasi Soal Buah Hijau
Di lapangan, masih terdapat anggapan bahwa buah sawit berwarna hijau tidak akan diterima oleh pabrik karena dikira merupakan buah dari pohon dura yang berperforma rendah. Yopy menegaskan informasi ini sangat keliru dan perlu diluruskan.
“Buah hijau pada Topaz 1 adalah 100% tenera unggul dengan cangkang tipis dan rendemen tinggi,” katanya.
Misinformasi ini, menurutnya, muncul karena pada masa lalu banyak kebun menanam varietas buah hijau tidak bersertifikat yang pada akhirnya menghasilkan buah dengan rendemen rendah akibat kontaminasi dura. Ia menambahkan bahwa Topaz 1 merupakan salah satu pionir varietas virescens unggul di Indonesia sejak dirilis pada 2004.
Untuk mencapai potensi maksimal, Yopy menegaskan pentingnya penerapan Best Management Practices (BMP), terutama dalam pemupukan, pengendalian hama penyakit, dan standar panen yang ketat.
Salah satu poin penting adalah penentuan kematangan buah virescens. Petani tidak boleh hanya mengandalkan perubahan warna sebagai indikator panen.
“Buah hijau akan berubah ke hijau kekuningan sebelum matang penuh menjadi oranye. Jika dipanen saat hijau kekuningan, tandan masih mentah dan rendemen minyak rendah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa panen harus dilakukan dengan memperhatikan jumlah brondoloan, bukan hanya berdasarkan perubahan warna kulit buah.
Topaz 1 juga dinilai unggul untuk lahan marginal, terutama di kawasan kering, berbukit, dan gambut dangkal. Kondisi tanah yang ekstrem seringkali menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan pohon sawit.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














