• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Pemanfaatan Land Application  Hemat Biaya dan Ramah lingkungan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Pemanfaatan land application (LA) untuk pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dinilai mampu memberikan dampak signifikan dalam menghemat devisa negara dan meningkatkan daya saing produk sawit nasional. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, dalam pernyataannya di Jakarta pada Senin (16/12/2024).

Menurut Eddy, penerapan teknik LA yang memperhatikan dosis optimal, jenis tanah, faktor cuaca, kondisi redoks, dan parameter lainnya sesuai karakteristik kebun kelapa sawit, sangatlah bermanfaat. Dengan kadar Biological Oxygen Demand (BOD) tertentu, yakni 3.000 hingga 5.000 mg/liter dengan eH lebih besar dari -150 mVolt, limbah cair tersebut memiliki kandungan unsur hara optimal tanpa menghasilkan emisi gas metana (CH4).

Efisiensi dan Pengurangan Impor Pupuk

“Dengan menggunakan LCPKS sebagai pupuk organik, kita tidak hanya memanfaatkan nutrisi alami, tetapi juga mengurangi kebutuhan impor pupuk kimia dari luar negeri,” ungkap Eddy. Langkah ini, menurutnya, dapat berkontribusi besar dalam penghematan devisa negara.

Selain itu, limbah cair juga memiliki potensi sebagai sumber energi terbarukan. Dalam praktik LA, limbah cair dialirkan ke kebun melalui sistem parit. Metode ini terbukti lebih hemat biaya operasional dibandingkan metode non-LA, dengan potensi keuntungan mencapai Rp 2.928.236 hingga Rp 5.478.738 per hektare, seperti yang tercantum dalam laporan akhir Pusaka Kalam tahun 2024.

“Pengurangan impor pupuk juga berdampak pada efisiensi biaya dan meningkatkan daya saing industri kelapa sawit. Dampaknya terasa hingga petani, karena biaya operasional yang lebih rendah dapat memperbaiki harga tandan buah segar (TBS),” tambah Eddy.

Dukungan Pemerintah dan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Eddy juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya LCPKS secara optimal. Dengan pengelolaan terbaik, LA dapat menjadi solusi utama dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama melalui pengurangan penggunaan pupuk kimia dan penurunan BOD limbah cair. Hal ini sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

“Penerapan LA yang dikelola secara baik dapat memberikan kontribusi nyata pada penurunan emisi GRK, bersamaan dengan opsi lain seperti methane capture,” ujarnya. Methane capture sendiri merupakan teknologi untuk menangkap gas metana dari proses dekomposisi anaerob, yang selain mengurangi emisi GRK, juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Methane Capture vs Land Application

Pakar tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr, menjelaskan bahwa methane capture dan land application memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Methane capture bertujuan menangkap gas metana yang dihasilkan dari proses dekomposisi limbah cair, sementara LA mengacu pada penggunaan limbah cair untuk meningkatkan kesuburan tanah.

“Untuk penerapan LA, BOD limbah harus di bawah 5.000 mg/L. Jika limbah dibuang ke perairan, standar BOD-nya lebih ketat, yakni di bawah 100 mg/L,” jelas Dr. Basuki.

Meskipun methane capture memiliki kelebihan sebagai penghasil energi, Eddy berharap teknologi ini tidak diwajibkan bagi pabrik yang ingin memanfaatkan limbah cair untuk LA. “Methane capture cocok untuk produksi energi, tetapi penerapannya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pabrik,” tambahnya.

Langkah Konkret Menuju Pengelolaan Berkelanjutan

Kementerian Lingkungan Hidup saat ini sedang menyusun peta jalan pengurangan emisi GRK, khususnya metana, dari industri kelapa sawit. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, saat meninjau salah satu pabrik kelapa sawit di Pelalawan, Riau, mengapresiasi praktik pengelolaan limbah yang baik, termasuk pemanfaatan metana untuk pembangkit listrik.

Dengan pengelolaan limbah cair yang terencana, industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya berkontribusi pada upaya pengendalian perubahan iklim global, tetapi juga meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia. Pemanfaatan limbah cair melalui teknik land application dan methane capture menjadi peluang besar untuk menciptakan industri yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sumber: gapki.id

Artikel Terkait