DITPKHL- Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL), Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim bersama ITTO mengadakan Fire Webinar Seri ke-3 dengan tema “Sharing Best Practices from Forest Fire Brigade in ASEAN” pada tanggal 19 Mei 2022 secara daring. Acara tersebut menghadirkan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari Malaysia (Bomba), Thailand (Red Ants), dan Indonesia (Manggala Agni). Tujuan dari pelaksanaan kegiatan webinar tersebut adalah untuk berbagiinformasi terkait upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di ASEAN, memberikan umpan balik (feedback) dan rekomendasi dalam upaya pengendalian karhutla (dalkarhutla), dan menjalin serta meningkatkan jejaring pemadam karhutla di ASEAN.
Acara tersebut dimoderatori oleh Kasubdit Penanggulangan Karhutla, Israr Albar dan hadir sebagai pembicara Fitria Sri Handayani (Indonesia), Ahmad Faiz bin Tharima (Malaysia), dan Veerachai Tanpipat (Thailand). Kehadiran Pemadam Karhutla dari berbagai negara ASEAN tersebut menarik 600 lebih peserta dari dalam dan luar negeri yang hadir melalui Zoom dan Youtube.
Dalam webinar tersebut semua pembicara berbagi informasi mengenai organisasi Brigade Dalkarhutla (Brigdalkarhutla), pengalaman dalkarhutla, dan kondisi serta pengalamannya dalam dalkarhutla. Masing-masing Brigdalkarhutla tersebut tentunya memiliki persamaan maupun perbedaan dalam tata kelola organisasi. Begitu pula dengan karakteristik lapangan yang dihadapi dan pengalaman-pengalaman uniknya dalam pelaksanaan tugasnya, dengan adanya webinar tersebut diharapkan terjadi saling tukar pengalaman yang berguna untuk pelaksanaan tugas Brigdalkarhutla selanjutnya.
Fitria merupakan satu-satunya pembicara wanita dalam webinar ini dan merupakan Komandan Regu Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang. Dalam kesempatan webinar ini Fitria menyampaikan pengalaman uniknya sebagai pemadam wanita dan pengembangan inovasi yang dilakukan berupa pembuatan asap cair dari biomassa yang selama ini biasanya dibakar. Asap cair sendiri dapat dimanfaatkan sebagai disinfektan, pengusir hama, dan penyubur tanah.
Ahmad dari Malaysia, Head of Rescue Operation Research Branch Bomba Malaysia menyampaikan bahwa kini terjadi perubahan paradigma dalam Dalkarhutla di Malaysia, saat ini 80% upaya lebih diarahkan kepada pencegahan karhutla. Peralihan tersebut mengurangi waktu pemadaman, tenaga kerja dan biaya. Malaysia juga menggunakan drone, ATV, dan teknologi GIS, dan Wifi Network. Untuk perbaikan ke depan Brigdalkarhutla Malaysia akan mencoba operasi 24 jam, monitoring pompa dan peningkatan keamanan untuk tenaga pemadam dari ancaman pada saat pemadaman.
Perwakilan dari Thailand, Veerachai menyampaikan bahwa di Thailand terdapat 5 tipe Brigdalkarhut, yaitu fire tigers, red ants unit, fire hawk special force, army forest fire mission support task force dan relawan dengan lebih dari 7.000 anggota yang tersebar di seluruh Thailand dan didukung dengan 10 pusat pelatihan. Untuk pemadaman udara, Thailand didukung dengan helikopter Kamov-32, Mi-7, CH-47, Bell (Huey), dan pesawat (fix wing) CL-215 (amfibi), BT-67 (Dacota) dan C-130 Hercules. Operasi Dalkarhutla didukung dengan teknologi UAV Fixed Wing, Small Thermal Cam Drone dan Portable Remote Automated Weather Station.
Antusiasme peserta webinar dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk kepada semua pembicara. Salah satu hal yang ditanyakan adalah mengenai peranan wanita dalam Brigdalkarhutla. Malaysia dan Thailand menyampaikan bahwa ada tenaga wanita namun keterlibatannya bukan sebagai pemadam. Pertanyaan lainnya adalah terkait tantangan yang dihadapi, rata-rata tantangan yang dihadapi Brigdalkarhutla adalah anggaran, sumber daya manusia, koordinasi, dan pengaruh perubahan iklim yang menyebabkan tingginya intensitas karhutla.
Sebagai penutup, moderator menyimpulkan bahwa ke depan tantangan Brigdalkarhutla di ASEAN semakin berat dengan berubahnya iklim menjadi semakin panas sehingga kerawanan karhutla meningkat. Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, Brigdalkarhutla perlu meningkatkan profesionalismenya.
Diharapkan ke depan terdapat berbagi pengalaman di antara Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di antara negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand dan Indonesia sebagai aksi bersama ASEAN dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim secara regional.
Selain itu moderator menyimpulkan bahwa kegiatan dalkarhutla perlu fokus dalam pencegahan, pelibatan masyarakat, dan peningkatan penelitian, pengembangan serta inovasi dalkarhutla untuk menghadapi perubahan tantangan ke depan.
Sumber: sipongi.menlhk.go.id






