• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Peluncuran Buku "Dari Loyang Jadi Emas", Kisah Sahat Sinaga Dorong Sawit Indonesia Lebih Bernilai

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Sahat Sinaga telah meluncurkan buku berjudul “Dari Loyang Jadi Emas: Kisah Sahat Sinaga dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai” resmi diluncurkan di Jakarta, Rabu (15 April 2026). Buku ini menggambarkan kisah perjalanan dan kontribusi Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) ini dalam memperjuangkan sawit agar memiliki nilai tambah.

Buku setebal 230 halaman ini ditulis berdasarkan perjalanan hidup dan pemikiran Sahat Sinaga sebagai seorang profesional dan praktisi. Di dunia sawit, pemikiran Sahat Sinaga selalu melampaui zaman dan sangat inovatif.

“Minyak sawit adalah anugerah Tuhan. Kompisisinya persis seperti air susu ibu, vitamin E-nya seribu kali lebih tinggi dari minyak zaitun. Tapi kita salah mengelolanya,” Kutipan ini ditulis Sahat Sinaga sebagai pembuka dalam buku Dari Loyang Jadi Emas (Kisah Sahat Sinaga dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai).

Lulusan Teknik Kimia ITB ini berpandangan bahwa sawit bukan sekedar minyak. Tetapi ibarat emas yang menghidupi, menguatkan tubuh, melahirkan generasi yang tangguh, membangun rumah dan menyehatkan tanah.

“Mari kita kembalikan sawit, dari loyang jadi emas, utuh dan bermakna bagi anak-anak Indonesia,” kata Sahat.

Buku ini, dijelaskan Sahat, diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk melihat industri sawit sebagai sektor yang memiliki nilai tambah dari sisi kualitas dan ekonomi, baik bagi masyarakat maupun negara jika dikelola dengan baik dan benar.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Dr. Rahmat Pambudy, memberikan apresiasi atas terbitnya buku yang mengulas kisah Sahat Sinaga, sang pejuang sawit.

“Sahat M. Sinaga, seorang teknokrat, seorang pejuang, sekaligus salah satu bapak sawit Indonesia yang menjadi industri sawit di Indonesia,” katanya.

Prof. Rachmat Pambudy mengungkapkan bahwa peluncuran buku Sahat Sinaga merupakan momen luar biasa. Berbagai aspek terkait sawit telah banyak dibahas, mulai dari pengembangan hingga hilirisasi.

“Yang belum dibicarakan adalah siapa sebenarnya orang-orang yang bisa memajukan sawit supaya sawit bisa berkembang dan menjadi nomor satu di dunia. Itu yang sering kita lupakan. Dan di antara orang-orang itu adalah salah satunya Bapak Sahat Sinaga,” ungkapnya saat memberikan sambutan pada peluncuran buku.

“Pada waktu itu Pak Sahat mengenalkan sawit merah, yang telah dibuat sejak 1993. Kelihatannya sederhana, sawit merah. Tapi sebenarnya kalau pada waktu itu kita mengikuti jalan pikiran yang dikembangkan oleh Pak Sahat Sinaga, kita bukan hanya raja sawit. Kita raja oleokimia. Dan kita raja dunia di bidang produk berbasis sawit. Itulah sebenarnya karya nyata yang diharapkan oleh seorang insinyur Teknik Kimia – ITB, (Sahat Sinaga),” puji Prof. Rachmat Pambudy.

Sambutan positif juga disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yang mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang berhalangan hadir.

“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Bapak Sahat Sinaga, karena beliau bisa memetakan potensi nilai tambah dari sawit dan merintis untuk itu. Jadi ini adalah suatu pemikiran yang perlu bersama-sama kita dorong agar bisa terwujud. Kalau memang dilakukan dengan terintegrasi terpadu seperti itu, suatu produk itu kan daya saingnya luar biasa," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan, Letjen TNI (Purn) Musa Bangun, menegaskan bahwa pemikiran Sahat Sinaga sangat visioner dan berpotensi meningkatkan pendapatan petani, kesehatan masyarakat, serta pemasukan negara.

Buku berjudul ‘Dari Loyang Jadi Emas: Kisah Sahat Sinaga dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai’ bukan sekadar biografi, melainkan sebuah manifesto tentang keberanian berpikir berbeda dan mengubah kekayaan alam menjadi kemakmuran bangsa. Catatan dari dalam tentang bagaimana sawit bisa berubah—dari loyang menjadi emas.

Artikel Terkait