Padang, SAWIT INDONESIA - Pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik menjadi aksi nyata bagi pekebun sawit ditengah mahal dan sulitnya pupuk kimia pabrikan. Jika pohon sawit membutuhkan minimal 5 kg pupuk/pokok/tahun x 136 pokok/ha = 680 kg pupuk/ha/tahun, dengan harga Rp 20.000/kg maka diperlukan biaya Rp 13,6 juta/ha/tahun untuk pembelian pupuk. Memang dengan harga TBS (Tandan buah segar) sedang meningkat, nomimal 13,6 juta bisa didapatkan dari penjualan 4,5 ton TBS/ha/tahun (harga TBS = Rp 3.000/kg). Permasalahannya bukan hanya diharga pupuk tapi juga di ketersediaan pupuk dipasaran.
59 peserta dari Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Dharmasraya menyambut antusias pelatihan pupuk organik ini yang didanai oleh BPDP dan mendapat dukungan teknis dari Ditjenbun. Pelatihan berlangsung selama 4 hari mulai tanggal 10 – 13 Agustus 2026 di Hotel Axana, kota Padang, Sumatera Barat, terdiri dari 3 hari sesi kelas dan 1 hari sesi kunjungan lapang. Dalam sesi kelas, peserta mendapatkan gambaran pembuatan pupuk organik melalui presentasi dari narasumber. Tidak hanya presentasi, peserta juga dilibatkan secara aktif untuk praktek langsung pembuatan pupuk organik, baik pupuk organik padat (POP) maupun pupuk organik cair (POC).
Bekal yang didapatkan peserta dalam sesi kelas seperti pembuatan molase sebagai makanan mikroba, isolasi dan pembuatan pupuk organik dari mikroba berbasis jamur seperti trichoderma dan aspergillus niger dari akar dan tanah bambu, jamur sacharomices dari air cucian beras, mikroba berbasis bakteri lactobacillus dari air cucian beras, bakteri dari kulit buah nenas, bakteri dari kulit pisang, dan hara dari sayuran kubis. Tidak hanya mikroba berbasis bakteri dan jamur, peserta juga praktek isolasi hormon seperti auksin, giberelin, sitokini dari berbagai bahan baku organik. Selain itu peserta mendapatkan pemahaman mengenai asam humat yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik.
Pada sesi kunjungan lapang, peserta melihat bukti langsung dari Kelompok Tani Tigo Balai di Kabupaten Solok yang secara bersama-sama dan mandiri mampu membuat pupuk organik padat (kompos) dengan bahan baku dari kotoran sapi dan kotoran kambing. Limbah kotoran hewan (kohe) yang melimpah disana kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Kelompok tani yang beranggotakan sekitar 12 orang dengan dana sendiri selama lebih dari 1 tahun terakhir mampu menjalankan usaha pupuk organik skala UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).
Tantangan dalam usaha pembuatan pupuk organik ini terkait dengan pemenuhan standar mutu dan izin edar untuk bisa diperjualbelikan secara komersil. Perlu dukungan pemerintah untuk mempermudah perizinan produk kompos skala UMKM ini, agar industri pupuk organik bisa berkembang di Indonesia.
Terima kasih BPDP, Ditjenbun dan BPI sudah memberi kami kesempatan untuk mengikut pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik ini. Semoga kedepan, lebih banyak lagi peserta yang bisa ikut pelatihan ini.






