• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Pada 2045, Produk Olahan Sawit Ditargetkan Capai 250 Jenis

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah menargetkan pada 2045 ada sedikitnya 2.050 jenis produk olahan sawit yang dibangun di Indonesia. Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI, Putu Juli Ardika mengatakan produk olahan sawit sudah mencapai 179 jenis produk sampai 2022 dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2045. Jadi, pemerintah memprioritaskan indusri itu sebagai lokomotif pembangunannya karena akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, jika mendorong sektor industri.

“Kita bisa melihat, ragam produk turunan sawit cukup berkembang. Sampai 2022 sudah ada 179 jenis produk. Kita kita harapkan 2045 ada 250 jenis produk sawit. Demikian juga produksi bahan baku ada dari 51 juta menjadi 92,44 juta,” ujar Juli dalam paparannya di Forum Sawit Indonesia 2023, Kamis (23/11/2023).

Dengan target tersebut, menurutnya dibutuhkan intensifikasi dan perlunya teknologi baru karena dia akan membantu meningkatkan produksi CPO dan CPKO. Putu Juli menuturkan, industri sawit cukup berkembang pesat karena pada tahun 2010 itu ekspor dalam bentuk olahan hanya 40 persen dan 60 persen dalam bentuk CPO-nya. Sedangkan pada 2022 itu 89 persen bentuk olahan dan tinggal 11 persen dalam bentuk CPO.

“Kita cukup berhasil meningkatkan nilai tambah seperti ini. Dibandingkan kelapa [kopra] nilai tambahnya rendah. Sehingga petani tidak semangat seperti halnya di sawit. Ini yang perlu jadi konsen kita. kalau nilai tambahnya harus kita dorong,” tutur Juli.

“Tugas kami di industri kita maksimalkan menjadi nilai tambah. Di sawit ini mulai berhasil mulai dari hulu antara lanjutan sampai fitur nutrion bio matrial dan biofiuel. Dan sekarang oleokimia yang paling besar dan harusnya pemerintah mendorong. Baik berupa insentif gas yang bersaing dan fasilitias-fasilitas lainnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Juli mengungkapkan industri sawit mempunyai nilai bisnis hampir Rp800 triliun. Dari ekspor saja nilainya Rp568,9 triliun pada 2022. Padahal, kata dia, tahun tersebut kurang bagus karena ada larangan ekspor.

“Jadi bapak/ibu kalau kita ada masalah dengan produk sawit ini, neraca perdagangan langsung minus. Sehingga bapak ibu adalah pahlawan devisa dan pahlawan yang menyebabkan perdagangan kita positif,” tandas Juli.

Penulis: Indra Gunawan

Artikel Terkait