• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Pabrik Kelapa Sawit Teknologi SPOT Sebagai Alternatif Komplemen Teknologi Konvensional

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) sebagai lembaga yang menaungi INSTIPER Yogyakarta dan AKPY–STIPER menjalin kerja sama strategis dengan PT Nusantara Green Energy.

Kerja sama ini menandai terobosan penting dalam pengembangan teknologi pengolahan kelapa sawit berbasis Teaching Plant Steamless Palm Oil Technology (SPOT).

Ketua YPKPY, Dr. Purwadi, M.Si. menjelaskan bahwa teknologi ini merupakan alternatif komplemen bukan kompetisi. "Jadi teknologi SPOT ini akan melengkapi yang sudah ada. Sekali lagi kalau ekosistem bisnisnya berubah, mungkin bisa juga sebagai alternatif kompetisi," jelasnya.

Q: Selamat sore Pak Pur, sehat selalu dan tetap bugar. Sedang berkarya di mana?

P: Amin, ini sedang di SEAT Bawen, Stiper Edu Agro Tourism, instalasi pendidikan yang dikembangkan lebih luas untuk layanan jasa Edu-Agro-Tourism.

Q: Itu Instalasi kebun praktek mahasiswa INSTIPER dan AKPY yang di Bawen?

P: Betul kebun tersebut sekarang luasnya sudah 14 hektar, tambah banyak blok kebun koleksi komoditas baik perkebunan, kehutanan dan hortikultura. Mulai Januari 2026 sudah melayani berbagai kegiatan: camping anak sekolah dan Perguruan Tinggi, Praktek kebun Perguruan Tinggi lain, pelatihan-pelatihan, meeting, wedding event dan kegiatan-kegiatan lain. Fasilitas juga sudah dilengkapi mulai 20 kamar asrama mahasiswa, 25 kamar penginapan, glamping, "Omah NGiDe"-rumah inspirasi terdiri 6 rumah inspirasi dengan hall ruangan maupun lapangan, unit pilot plan untuk kopi-kakao-teh, smart-greenhouse, dan lainnya. Nanti teman-teman media Forwatan saya undang untuk menikmati fasilitas kita.

Q: Pak Pur, Selasa lalu ada kerja sama YPKPY dan PT NGE, pengembangan pabrik kelapa sawit teknologi SPOT. Bisa dijelaskan terkait rencana kerja sama tersebut?

P: Pabrik sawit teknologi SPOT merupakan model teknologi pabrik pengolahan kelapa sawit alternatif yang pada saat nya bisa menjadi "komplemen" model-teknologi PKS yang saat ini telah eksis. Ada 2 lembaga yang kemarin mengembangkannya yaitu AKPY dengan dana GRS BPDP dan PT NGE dana sendiri, yang keduanya menghasilkan PKS prototipe generasi pertama. PKS yang dikembangkan PT NGE ini kemarin dikembangkan di Jambi, dan sekarang akan direlokasi di INSTIPER dan dikembangkan lebih lanjut menjadi prototipe kedua. Dengan demikian dua model prototipe PT NGE dan AKPY ini keduanya ada di fasilitas YPKPY di Yogyakarta sehingga akan mudah untuk pengembangannya.

Q: Apakah ini didesain untuk bisnis atau untuk pembelajaran?

P: Untuk bisnis dan untuk teaching plant-factory termasuk untuk riset dan inovasi pengembangan PKS dan pada saatnya pengembangan lebih lanjut akan dilakukan untuk menghasilkan inovasi pabrik dan inovasi produknya.

Q: Apakah jika nanti masuk dam sistem bisnis, pada saatnya tidak mengganggu bisnis PKS saat ini?

P: Tentu tidak, pada pengembangan ini lebih sebagai "alternatif komplemen" dari yang ada, kecuali pada saatnya dimandatkan untuk mendukung ekosistem baru dalam industri sawit, misal untuk dukungan "dedicated" sistem industri energi terbarukan.

Q: Beberapa waktu lalu atau bahkan sampai saat ini kan masih ada tantangan bisnis PKS, misalnya terkait dengan keberadaan dan bisnis PKS tanpa kebun?

P: Kalau terkait dengan PKS-SPOT ini, kan lebih sebagai alternatif komplemen, dan bukan sebagai alternatif kompetisi, jadi lebih sebagai melengkapi yg sudah ada. Sekali lagi kalau ekosistem bisnisnya berubah, barangkali bisa juga sebagai alternatif kompetisi.

P: Memang kita melihat kekhawatiran perkebunan dengan PKS konvensional saat ini, bahwa pengembangan PKS mini, PKS tanpa kebun akan mengganggu iklim bisnis lama? Menurut hemat saya, tidak perlu dikhawatirkan. PKS eksisting saat ini sudah berjalan lama, dengan pengalaman bisnis lama, dengan desain industri sesuai efektivitas dan efisiensi saat ini, tentunya dan seharusnya lebih kompetitif dibandingkan yang baru. namun demikian jika pada saatnya "kurang bisa bersaing" berarti dalam perkembangannya ada yang salah, misal tidak "inovasi" baik teknologi maupun manajemen bisnisnya. Kalau itu yang terjadi, ya nggak bisa menyalahkan atau menghambat perkembangan yang lain, anggap saja "uji nyali" dengan kompetitor. Dan sejatinya kompetisi diperlukan untuk membangun daya saing, tapa ada persaingan maka akan ada di zone nyaman, miskin inovasi, pada saatnya tidak kompetitif, itulah hukum alam bisnisnya.

Q: Jadi ini nanti bisa jadi alternatif kompetitor juga?

P: Bisa dan memiliki peluang ke sana dalam masa mendatang, jika teknologi PKS SPOT pada saat bisa cocok dengan kondisi lingkungan dan lebih efisien dan selanjutnya memperoleh ekosistem yang cocok. Maka akan berkembang menjadi "alternatif kompetitif". Misal, dengan keunggulannya maka PKS ini bisa diberikan peran untuk perkebunan-perkebunan rakyat yang dikelola mandiri dan "dedicated" untuk energi, atau pangan, atau pakan atau untuk produk tertentu (khusus), namun yang tidak kalah penting adalah dukungan "ekosistem industri dan bisnis" oleh pemerintah karena penugasan "dedicated" untuk dukungan program pemerintah.

Q: Wah ini berarti harus juga bisa menjadi perhatian para pihak di perkebunan dan industri sawit dan pemerintah?

P: Perubahan industri dan bisnis kelapa sawit dalam dinamika perubahan yang cepat, dan akan lebih cepat lagi. Kita tidak boleh terlena dan perlu terus menerus melakukan inovasi menghasilkan teknologi baru, manajemen baru agar pada saatnya terus mampu berkompetisi di ekosistem bisnis yang baru.

Q: Terima kasih Pak Pur, selamat menikmati udara sejuk di SEAT (Stiper Edu Agro Tourism)

P: Terima kasih, nanti kita atur teman-teman Forwatan main dan mencari inspirasi baru di SEAT "Omah NGiDe" RuMaH iNSPiRaSI.

Artikel Terkait