• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Ngabuburit, Belajar Membatik dengan Bio Parafin Berbasis Sawit

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Pemanfaatan malam atau lilin (paraffin) berbahan dasar sawit terus dikenalkan kepada khalayak. Kali ini, bio paraffin sawit dikenalkan kepada mahasiswa INSTIPER Yogyakarta, di sela-sela waktu menunggu berbuka bersama melalui kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Tepat di lobby Fakultas Pertanian, INSTIPER Yogyakarta sebanyak 23 mahasiswa terlihat belajar membatik, pada Rabu (4 Maret 2026). Acara tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat dengan judul “Eko-Batik Lestari: Pemanfaatan Bio Paraffin Kelapa Sawit sebagai Malam Alternatif Ramah Lingkungan dan Keberlanjutan Batik untuk Gen Z”.

Betti Yuniasih, selaku ketua Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan dosen dari Fakultas Pertanian menjelaskan, bahwa program ini bertujuan untuk mengenalkan malam kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan malam berbahan dasar paraffin yang berasal dari minyak bumi. “Malam sawit ini menggunakan stearin sebagai substitusi dari paraffin,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Dina Mardhatillah, anggota PKM dan juga merupakan dosen Fakultas Teknologi Pertanian menambahkan, stearin merupakan fraksi padat dari turunan minyak kelapa sawit.

“Stearin dapat dimanfaatkan sebagai pengganti paraffin karena bersifat biodegradle dan non toksik, dapat diperbarui, dan emisi karbon lebih rendah. Stearin memberikan sifat rapuh atau efek retakan (cracking) yang khas pada batik, selain itu stearin membantu malam agar lebih cepat membeku setelah ditorehkan pada kain dan memudahkan proses pelepasan malam (pelodoran) di akhir tahap pewarnaan,” ujarnya.

Pelatihan membatik ini melibatkan mahasiswa yang merupakan Gen Z. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan batik sebagai warisan budaya nasional yang telah diakui dunia. Generasi muda harus ikut aktif melestarikan budaya Indonesia, salah satunya dengan memahami proses membatik. Keberlanjutan batik tidak hanya sebatas lestari hingga anak cucu, namun dalam proses membatik juga perlu dilakukan upaya-upaya berkelanjutan seperti menggunakan bahan ramah lingkungan seperti malam batik kelapa sawit.

Peserta pelatihan yang merupakan mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa, belum pernah membatik sebelumnya. Mereka juga belum pernah tahu kalau turunan minyak kelapa sawit dapat menjadi bahan baku malam batik. Sehingga kegiatan ini menjadi kegiatan menarik bagi mereka untuk ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka karena dilakukan di sore hari di Bulan Ramadhan.

Natasya, salah satu peserta, menyampaikan ketertarikannya mengikuti kegiatan ini. “Saya belum pernah belajar membatik sebelumnya. Menurut saya kegiatan ini seru karena saya jadi bisa belajar membatik dari mulai menggambar pola, membatik tulis hingga membatik cap. Sebelum mengikuti pelatihan, saya juga tidak tahu kalau turunan minyak sawit bisa menjadi bahan baku membuat malam untuk membatik sebagai pengganti paraffin,” ucapnya.

Malam batik kelapa sawit dapat menjadi alternatif batik ramah lingkungan. Peran serta generasi muda penting dalam pelestarian batik juga penting untuk keberlanjutan batik Indonesia.

Artikel Terkait