Berita Terbaru
Menthobi Karyatama Raya Targetkan Dana IPO Rp 375 Miliar
Jakarta, SAWIT INDONESIA – Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit yaitu, PT Menthobi Karyatama Raya Tbk, (MKTR) berencana melakukan pengembangan dan ekspansi bisnis.
Untuk itu, MKTR melakukan investasi Initial Public Offering (IPO). Dengan menawarkan sebanyak 2,5 miliar lembar saham atau 20,83% dari modal ditempatkan dan disektor kepada publik. Harga yang ditawarkan antara Rp100 per saham hingga Rp150 per saham. Dari nilai penawaran tersebut, perusahaan menargetkan dapat memperoleh dana sebanyak-banyaknya Rp375 miliar. Penawaran itu, dilakukan secara resmi melalui Public Expose MKTR, pada Jum’at lalu (21 Oktober 2022), di Jakarta.
Direktur Utama MKTR, Harry M Nadir, mengatakan sumber dana dari IPO diharapkan dapat mendukung rencana pengembangan dan ekspansi bisnis yang dilakukan perusahaan. Hal itu, dilihat dari mayoritas dana IPO atau sebesar 95,01% yang akan digunakan untuk pengembangan usaha dan ekspansi bisnis melalui sejumlah entitas anak usaha yang dimiliki.
Diantaranya pembangunan fasilitas pengelolaan limbah menjadi pupuk melalui PT Menthobi Hijau Lestari (MHL). Kemudian pembelian sarana transportasi dan alat berat melalui PT Menthobi Transtitian Raya (MTR) dan pembelian bibit sawit melalui Menthobi Agro Raya (MAR).
Selain itu, MKTR akan melakukan pembebasan lahan perkebunan dan perluasan lahan tanaman baru 1.200 ha melalui PT Menthobi Makmur Lestari (MMAL). Melalui MMAL, perseroan juga akan membangun fasilitas water management untuk mendukung perluasan lahan yang dilakukan.
"Sejalan dengan meningkatnya produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari MMAL maupun dari pihak ketiga, maka dana IPO juga akan digunakan untuk penyempurnaan pembangunan pabrik kelapa sawit seperti maintenance, perbaikan stasiun utama, dan stasiun pendukung beserta sarana penunjangnya. Selain untuk ekspansi usaha MKTR akan menggunakan 4,99% dana IPO sebagai modal kerja," kata Harry M Nadir, saat Public Expose MKTR.
Selanjutnya, Harry mengungkapkan saat ini merupakan momentum yang baik bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan dan ekspansi bisnis dengan mencari sumber pendanaan melalui IPO. Hal itu, dikarenakan kondisi industri yang tengah positif, dimana permintaan komoditas CPO dalam negeri dan global terus meningkat.
Bahkan, dalam empat tahun mendatang atau pada 2026 pasar global minyak sawit diperkirakan akan mencapai USD 106 miliar, tumbuh hampir dua kali lipat dibanding 2020 yang USD 54,8 miliar. Selain itu, potensi kenaikan harga CPO juga sangat terbuka untuk terus mengalami kenaikan.
Seperti pada April 2022 lalu, harga CPO sempat menyentuh harga all time high di level MYR 7.104/ton. Selain melalui pengembangan usaha, kenaikan harga CPO diharapkan dapat berkontribusi positif bagi kenaikan pendapatan MKTR," ujar Harry.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan usaha yang dilakukan MKTR sudah terlihat dari konsistensi pertumbuhan pendapatan. Seperti di tahun 2019, MKTR membukukan pendapatan Rp 154 miliar dan tahun 2020 memperoleh pendapatan Rp 228 miliar.
Lalu di tahun 2021, pendapatan MKTR kembali tumbuh secara signifikan yaitu mencapai Rp 512 miliar. Dan sampai dengan kuartal III 2022 kemarin pendapatan MKTR sudah tercatat Rp 490 miliar dari target tahun 2022 yang sebesar Rp 565 miliar," kata Harry.
Menurut, Harry peningkatan pendapatan MKTR ke depan akan ditopang oleh pertumbuhan produksi yang didukung oleh profil tanaman yang masih muda yang dimiliki perusahaan. Kemudian, luas lahan yang belum tertanam akan turut mendukung penanaman baru dan pertumbuhan produksi TBS di masa mendatang.
Dengan tim manajemen yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dibidang ini, MKTR berkomitmen untuk membangun agrobisnis dengan inovasi best practice agronomi yang berkelanjutan serta ramah lingkungan untuk menghasilkan nilai tambah optimal kepada seluruh pemangku kepentingan," pungkas Harry.






