Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - INSTIPER Yogyakarta akan memasuki usia 67 tahun pada 10 Desember mendatang. Perguruan ini telah mengalami loncatan luar biasa di bidang pendidikan dan menjadi tempat mencetak sumber daya manusia andal serta berkualitas bagi sektor perkebunan khususnya sawit.
“Transformasi ini mencakup di lembaga penyelenggara (yayasan yang menaungi) dan unit yang ada di bawah naungannya yaitu INSTIPER Yogyakarta. Perubahan menyangkut pada perubahan yang mendasar yaitu pada kurikulum dan metode pembelajaran,” ujarnya Dr. Harsawardana, M.Eng, Rektor INSTIPER Yogyakarta saat press conference secara hybrid, pada Rabu (26 November 2025).
Menurutnya, perubahan (transformasi) yang dilakukan menjawab tantangan yang ada di dalam dan luar negeri yang saat ini sedang terjadi.
“Di dalam instansi yang menyangkut dengan bisnis dan industri pertanian, perkebunan dan kehutanan juga membutuhkan perubahan. Sejalan dengan perubahan yang dilakukan negara, dan negara-negara di lingkup regional maupun internasional,” katanya.
“Perubahan juga ada pada generasi yang saat ini didominasi generasi Z. Generasi ini, menginginkan pembelajaran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman dalam waktu yang singkat dan dengan cara yang menyenangkan,” imbuh Dr. Harsawardana.
Seperti diketahui, saat ini perkembangan teknologi sangat pesat. Dan, teknologi ini juga dibutuhkan oleh stakeholders, salah satunya perusahaan-perusahaan yang menerima lulusan INSTIPER Yogkakarta, yang saat ini mengalami distrupsi.
“Dengan adanya teknologi dan tuntutan serta integrasi informasi dan teknologi di supply chain membutuhkan perubahan dan cara kerja yang berbeda. Termasuk dilakukan oleh bidang-bidang yang notabenenya tidak membutuhkan teknologi tinggi, seperti pertanian, perkebunan dan kehutanan,” kata pria yang menjabat Rektor INSTIPER Yogyakarta periode kedua.
“Misalnya, bidang perkebunan, kita tidak membayangkan bahwa di sektor ini mengaplikasikan teknologi di industri lain untuk mendukung operasional, yang disebut cross industry. Lalu, teknologi apa yang diaplikasikan, yaitu teknologi digital yang menjadi kunci di industri apapun,” jelasnya.
Kenapa demikian, lanjut Dr. Harsa, karena teknologi ini tidak menyangkut teknologi informasi untuk mengirim data saja. Melainkan merubah sistem kerja di sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan yang sangat fundamental.
“Teknologi ini dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan di entitas tertentu untuk tumbuh positif. Yang biasanya yang menjadi tolak ukur pada sisi operasional dan keuangan khususnya pada entitas atau kelembagaan yang memang dibesarkan oleh kondisi keuangan,” sambungnya.
Lantas, seperti apa perubahan yang dilakukan oleh INSTIPER Yogyakarta secara riil? Sebagai perguruan tinggi swasta yang sejak dulu secara fokus di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan.
“Pembelajaran yang dilakukan dengan cara-cara inovatif dengan memanfaatkan teknologi yang saat ini berkembang yaitu, teknologi digital. Apa yang kami berikan masih sangat relevan, untuk kondisi saat ini dan di masa mendatang,” ucap Dr. Harsa.
“Transformasi yang kami lakukan mempertimbangkan beberapa hal, termasuk mengintegrasikan yang kami anggap akan berperan penting bagi kehidupan di masa datang. Contohnya, teknologi Artificial Intelligent (AI), robotic, informasi dan komunikasi, Internet of Think (IoT), Drone dan UAB. Di bidang pertanian, teknologi ini digunakan oleh generasi saat ini karena aktivitasnya tidak terlalu membebani fisik,” tambahnya.
Perubahan fisik dan non fisik harus dimulai dari perguruan tinggi agar tetap sustainable di masa depan. Hal inilah yang mendasari INSTIPER Yogyakarta melakukan transformasi (peruabahan), dalam menjalankan operasional dan menjawab tantangan yang ada di era berkembangnya teknologi yang berbasis pada digital.






