• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Mantan Wartawan Bangun UMKM Mille Crepes Berbasis Sawit, Jadi Inspirasi Peserta Gen-Z Preneur di Karawang

Karawang, SAWIT INDONESIA - Meninggalkan dunia jurnalistik yang telah digelutinya selama bertahun-tahun, Diantika Permatasari Widagdho memilih menapaki jalur berbeda sebagai pelaku usaha kuliner. Dari dapur rumahnya di Karawang, ia membangun Sinok Mille Crepes, sebuah usaha yang memanfaatkan bahan turunan sawit dan kini menjadi inspirasi bagi peserta Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit.

Kisah transformasi dari ruang redaksi menuju dunia wirausaha itu menjadi salah satu pelajaran yang diperoleh peserta saat melakukan kunjungan lapangan ke Sinok Mille Crepes di Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (5 Juni 2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertajuk “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Keuangan.

Melalui kunjungan tersebut, peserta tidak hanya melihat secara langsung pemanfaatan produk turunan sawit dalam industri pangan skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga mempelajari proses membangun usaha kuliner dari nol hingga berkembang menjadi bisnis yang dikenal masyarakat.

Pemilik Sinok Mille Crepes, Diantika Permatasari Widagdho, mengungkapkan bahwa dirinya tidak berasal dari latar belakang kuliner. Sebelum menjadi pelaku UMKM, ia berkarier sebagai jurnalis di media massa.

"Saya dulu orang media juga. Saya pernah bekerja di Suara Merdeka Semarang dan menjadi redaktur di sana. Kemudian saya pindah ke Karawang pada 2013," katanya.

Saat pertama kali menetap di Karawang, lingkungan tempat tinggalnya masih relatif sepi dan belum banyak pilihan usaha kuliner. Kondisi tersebut mendorongnya bereksperimen membuat berbagai jenis kue di rumah.

Awalnya, Diantika membuat pancake dengan peralatan sederhana tanpa oven maupun mixer profesional. Namun, setelah merasa jenuh dengan produk tersebut, ia mencoba membuat mille crepes yang ternyata mendapat respons positif dari keluarga.

"Saya berpikir kenapa tidak dijual saja. Lalu saya mulai memposting hasil buatan saya di Facebook. Banyak yang bertanya apakah bisa dibeli dan diantar ke rumah," ujarnya.

Meski saat itu layanan pengantaran daring belum berkembang seperti sekarang, keberadaan jasa antar lokal menjadi titik awal berkembangnya usaha tersebut. Dari situlah merek Sinok Mille Crepes mulai dikenal konsumen di Karawang.

Sawit Jadi Kunci Efisiensi Produksi

Diantika menuturkan, sebagian besar konsumennya tidak menyadari bahwa sejumlah bahan yang digunakan dalam mille crepes maupun produk pencuci mulut lainnya memanfaatkan turunan sawit.

Dalam proses produksinya, ia menggunakan margarin berbasis sawit yang dipadukan dengan butter, serta kombinasi krim nabati dan dairy untuk menghasilkan tekstur dan cita rasa yang seimbang.

"Banyak pelanggan tidak menyangka produk seperti es krim atau mille crepes juga menggunakan bahan berbasis sawit. Saya menggunakan margarin dan krim nabati karena lebih stabil. Kalau hanya dairy, teksturnya cepat lumer dan rasanya terlalu berat," katanya.

Menurut Diantika, bahan berbasis sawit juga memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya produksi. Selain lebih ekonomis, bahan tersebut mudah diperoleh di berbagai daerah sehingga memudahkan pengelolaan rantai pasok usaha.

"Harganya lebih terjangkau dan mudah dicari. Kalau butter harus dijaga rantai dinginnya dan tidak selalu mudah didapat. Untuk UMKM, faktor efisiensi ini sangat penting," ujarnya.

Selain itu, penggunaan bahan berbasis sawit membantu menghasilkan tekstur mille crepes yang lebih stabil, tidak terlalu lembek maupun terlalu kering.

Berkembang dari Rumah hingga Komunitas UMKM

Seiring meningkatnya permintaan pasar, Diantika aktif mengikuti berbagai program pengembangan UMKM. Ia pernah bergabung dalam program UMKM Juara yang difasilitasi Dinas Koperasi dan kemudian dipercaya menjadi pendamping UMKM naik kelas.

Saat ini, selain memasarkan produknya melalui media sosial dan penjualan langsung dari rumah, ia juga aktif mengikuti berbagai pameran dan bazar kuliner. Bahkan, dirinya dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Karawang Kuliner Malam.

Tak hanya menjual mille crepes, Diantika juga mengembangkan lini produk minuman berbahan rempah dan buah, termasuk minuman nanas serta kombucha yang mulai dirintis sejak pandemi Covid-19.

"Ketika pandemi, masyarakat mencari minuman yang dianggap baik untuk kesehatan. Dari situ saya mulai mengembangkan berbagai produk minuman berbasis rempah dan buah," katanya.

Fokus pada Enam Varian

Dalam perjalanan usahanya, Diantika sempat menawarkan hingga 12 varian mille crepes. Namun, seiring waktu jumlah tersebut dipangkas menjadi enam varian utama agar operasional usaha lebih efisien dan pengelolaan bahan baku lebih terkendali.

Saat ini, varian yang tersedia antara lain cokelat, matcha, almond, dan stroberi dengan harga Rp25.000 per potong.

Menurutnya, langkah tersebut justru membuat bisnis lebih efektif karena konsumen tidak kebingungan dalam memilih produk, sementara biaya penyediaan bahan dan topping dapat lebih terkontrol.

Diantika mengaku mulai serius mengembangkan usaha mille crepes sejak 2017. Berbekal informasi yang diperoleh dari internet, ia belajar secara mandiri mengenai resep, pemasaran, hingga pengelolaan usaha.

"Saya menikmati prosesnya. Ketika kita menikmati usaha yang dijalankan, biasanya akan muncul peluang-peluang baru. Dari situ saya belajar pemasaran, aktif ikut pameran, dan memperluas jaringan," ujarnya.

Artikel Terkait