• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

Manfaatkan Limbah Jadi Biogas hingga Pupuk Hayati, Astra Agro Diganjar Penghargaan Ekonomi Hijau

JAKARTA, SAWIT INDONESIA — Upaya mengubah limbah menjadi energi dan memanfaatkan mikroba sebagai pupuk hayati menjadi bagian dari inovasi keberlanjutan PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro). Berbagai langkah tersebut turut mengantarkan perusahaan meraih Anugerah Ekonomi Hijau 2026.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas peran Astra Agro dalam mendorong transformasi industri perkebunan yang lebih bertanggung jawab, efisien, dan berkelanjutan.

Direktur Astra Agro Lestari, Tingning Sukowignjo, menerima penghargaan tersebut dalam gelaran Anugerah Ekonomi Hijau 2026 yang diselenggarakan Detikcom di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis malam (3/9).

Acara tersebut turut dihadiri Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat, serta sejumlah pimpinan korporasi nasional.

Penghargaan ini menjadi pengakuan terhadap berbagai upaya Astra Agro dalam menerapkan praktik bisnis yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menekankan bahwa dunia usaha membutuhkan keteladanan untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis.

“Penghargaan ini penting karena perubahan tidak hanya membutuhkan regulasi dan sanksi, perubahan juga membutuhkan keteladanan, pengakuan, reputasi, dan contoh nyata bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama tanggung jawab ekologis,” ujar Jumhur saat membuka pelaksanaan Anugerah Ekonomi Hijau 2026.

Dari Limbah Menjadi Energi

Salah satu praktik yang menjadi bagian dari transformasi tersebut adalah pemanfaatan limbah cair kelapa sawit melalui teknologi methane capture.

Melalui teknologi ini, gas metana yang dihasilkan dari limbah cair kelapa sawit ditangkap dan kemudian dimanfaatkan menjadi biogas. Biogas tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk mendukung kegiatan operasional pabrik.

Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan inovasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat sekaligus memberikan manfaat terhadap efisiensi operasional.

“Melalui teknologi methane capture, limbah cair kelapa sawit yang semula menjadi sumber emisi yang signifikan kini ditangkap dan diubah menjadi biogas, bahan bakar boiler yang mendukung operasional pabrik,” ujar Tingning dalam keterangan tertulis diterima pada Jum'at (4 September 2026).

Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Astra Agro meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi jejak lingkungan dari kegiatan operasional perusahaan.

Mikroba Dikembangkan Jadi Pupuk Hayati

Inovasi lain dikembangkan di tingkat kebun melalui tim Research and Development (R&D) Astra Agro.

Perusahaan melakukan penelitian terhadap mikroba yang berasal dari kebun dan mengembangkannya menjadi ASTEMIC, pupuk hayati berbahan organik. Inovasi ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Penggunaan ASTEMIC disebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia hingga 25 persen. Selain itu, inovasi tersebut ditujukan untuk membantu menjaga kesehatan tanah sekaligus mempertahankan produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

Pemanfaatan pupuk hayati ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung program peremajaan tanaman, sehingga produktivitas perkebunan dapat dijaga secara berkelanjutan.

Emisi Turun, Energi Terbarukan Meningkat

Komitmen yang mendapat apresiasi melalui Anugerah Ekonomi Hijau 2026 tersebut juga tercermin dari capaian kinerja lingkungan Astra Agro.

Pada 2025, perusahaan mencatat reduksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Cakupan 1 dan 2 sebesar 35,69 persen dibandingkan tahun dasar 2019.

Angka tersebut telah melampaui target Astra Agro untuk mengurangi emisi GRK sebesar 30 persen pada 2030.

Di sisi energi, bauran energi terbarukan Astra Agro pada 2025 mencapai 92,30 persen. Perusahaan menargetkan bauran energi terbarukan tersebut meningkat menjadi 93,40 persen pada 2030.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penghargaan ekonomi hijau yang diterima Astra Agro tidak hanya bertumpu pada komitmen atau kebijakan, tetapi juga didukung oleh capaian terukur dan inovasi yang diterapkan dalam kegiatan operasional.

Selain aspek lingkungan, Astra Agro juga menjalankan penguatan ketelusuran rantai pasok dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Apresiasi Sekaligus Dorongan

Bagi Astra Agro, penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas perjalanan transformasi keberlanjutan sekaligus dorongan untuk terus melakukan perbaikan.

Tingning mengatakan keberlanjutan merupakan proses yang terus berjalan dan membutuhkan inovasi secara berkelanjutan.

“Bagi kami, keberlanjutan adalah proses yang terus berjalan. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas upaya yang telah dilakukan sekaligus menjadi dorongan bagi kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan bisnis,” pungkasnya.

Dengan berbagai inovasi tersebut, Astra Agro berupaya menerjemahkan konsep ekonomi hijau ke dalam praktik nyata di perkebunan. Limbah dimanfaatkan menjadi energi, mikroba dikembangkan menjadi pupuk hayati, emisi ditekan, dan penggunaan energi terbarukan terus ditingkatkan.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Astra Agro dalam mendorong industri perkebunan yang tidak hanya produktif, tetapi juga semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Artikel Terkait