JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Indonesia resmi bergabung sebagai anggota New Development Bank (NDB). Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden NDB Dilma Vana Rousseff di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (25/2).
Ekonom Arif Budimanta menilai, masuknya Indonesia ke dalam NDB diharapkan membawa sentimen positif, khususnya terkait pembiayaan pembangunan berkelanjutan.
’’NDB dengan modal USD 100 miliar diharapkan dapat mengubah lanskap kebutuhan pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan infrastruktur, khususnya di Negara Selatan-Selatan,’’ ujarnya di Jakarta, Rabu (26/3).
Arif melanjutkan, NDB didirikan oleh negara-negara BRICS yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Lima negara itu adalah pemegang saham mayoritas, dan diatur tidak boleh kurang dari 55 persen.
Saat ini, lanjut Arif, kebutuhan pembiayaan pembangunan Negara Selatan-Selatan sangat besar. Hal itu tentu saja akan membuat negara-negara tersebut tetap mencari alternatif sumber pembiayaan lainnya, seperti dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Bank Investasi Infrastruktur Asia, maupun bank pembangunan lain yang dimiliki lembaga-lembaga multilateral.
Dengan masuknya Indonesia ke dalam NDB, tentu membawa sejumlah konsekuensi. Arif menyebut konsekuensi itu di antaranya kewajiban untuk penyetoran modal ataupun membership fee, dan yang perlu juga dilihat adalah mekanisme voting. Walau NDB tidak mengenal hak veto bagi negara-negara yang menjadi anggotanya.
’’Masuknya Indonesia ke dalam NDB seyogyanya diikuti dengan pipeline proyek-proyek pembangunan berkelanjutan yang akan diajukan ke NDB. Yang juga perlu dilihat adalah skema pembiayaan dari NDB, seperti tingkat bunga, lama pinjaman, mata uang, persyaratan biaya-biaya lainnya, dan jenis-jenis proyek yang dibiayai,’’ jelas Arif.
Sebelumnya, dalam pertemuannya dengan Presiden NDB Dilma Vana Rousseff, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapan agar keanggotaan Indonesia di NDB dapat mendorong percepatan transformasi pembangunan nasional.
’’Saya pikir bank pembangunan multilateral yang baru ini dapat menjadi pendorong kuat untuk mempercepat strategi transformasi kita,’’ jelasnya.
Terpisah, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi keanggotaan Indonesia dalam NDB. Airlangga menekankan komitmen pemerintah dalam sejumlah program. ’’(Terutama komitmen) Indonesia di sektor ketahanan energi, khususnya energi terbarukan untuk mencapai net zero emission di 2060, salah satunya melalui program B40,’’ jelas dia.
Menanggapi hal tersebut, Rousseff terkejut dengan capaian B40 Indonesia, mengingat pengalaman di Brasil setelah beberapa tahun hanya bisa sampai B17. Rousseff juga turut mengapresiasi capaian Indonesia di sektor energi, khususnya dalam pengolahan biofuel.
’’Capaian itu merupakan inovasi yang baik, ditambah lagi setelah mengetahui bahwa B40 ini diperuntukkan bagi sektor transportasi serta bahan bakar di industri pengolahan mineral,’’ jelasnya.
Sumber: jawapos.com






