• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Majalah Sawit Indonesia Gelar Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit Indonesia 2026 di Palembang

Palembang, SAWIT INDONESIA - Upaya mempercepat keberhasilan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terus diperkuat melalui peningkatan kualitas input perkebunan, khususnya penggunaan benih sawit unggul dan bersertifikat. Komitmen tersebut akan menjadi fokus utama dalam Workshop Peremajaan Sawit Rakyat dan Pekan Benih Sawit Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 12–13 Februari 2026 di Ballroom Hotel Aryaduta, Palembang.

Mengusung tema “Sukses PSR 2026 Optimalkan Benih Sawit Unggul Dan Bersertifikat”. Event ini diharapkan menjadi forum strategis bagi pemangku kepentingan industri sawit, mulai dari pemerintah, Badan Pengelola Dana Perkebunan, Produsen Benih, akademisi, hingga petani sawit rakyat.

Ketua Pelaksana Workshop Peremajaan Sawit Rakyat Qayuum Amri menjelaskan penggunaan benih sawit unggul dan bersertifikat menjadi kunci utama kesuksesan PSR. Benih unggul yang dihasilkan dari persilangan terkontrol varietas resmi memiliki potensi produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO) yang jauh lebih tinggi dibandingkan benih biasa.

“Produsen benih kelapa sawit saat ini umumnya telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 untuk memastikan kecambah yang dihasilkan memenuhi standar SNI 8211:2015. Pengawasan kemurnian benih di tingkat produsen juga diatur ketat sesuai standar nasional tersebut,” ujar Qayuum Amri.

Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 20 perusahaan produsen benih sawit dengan total kapasitas produksi mencapai 250 juta kecambah per tahun, yang dinilai sangat untuk mendukung kebutuhan program peremajaan nasional.

“Salah satu kunci sukses Peremajaan Sawit Rakyat adalah penggunaan benih sawit unggul dan bersertifikat. Program PSR tidak hanya mendorong peremajaan tanaman tua, tetapi juga memastikan petani menggunakan benih yang kualitasnya telah teruji,” ujar Qayuum.

Ia menjelaskan, penggunaan benih unggul mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Dari kondisi kebun rakyat yang rata-rata hanya menghasilkan 2-3 ton CPO per hektare, produktivitas dapat meningkat menjadi 7,5 hingga 9,6 ton CPO per hektare. Selain itu, benih berkualitas juga mempercepat masa panen, menjaga kemurnian genetik tanaman, serta mencegah kerugian akibat penggunaan benih palsu.

“Dampaknya bukan hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pendapatan dan kesejahteraan petani, serta keberlanjutan usaha sawit rakyat dalam jangka panjang,” kata dia.

Meski demikian, Qayuum mengakui masih terdapat tantangan serius dalam penyediaan dan distribusi benih sawit unggul. Akses petani terhadap benih bersertifikat dinilai belum merata, sementara peredaran benih sawit ilegitim masih marak di sejumlah sentra perkebunan. Bahkan, penjualan benih sawit ilegal melalui platform daring semakin sulit dikendalikan.

“Walaupun penangkar benih mulai bermunculan di berbagai daerah, praktik peredaran benih tidak resmi masih menjadi persoalan besar yang merugikan petani dan industri sawit secara keseluruhan,” ujarnya.

Workshop ini akan menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Pertanian, GAPKI, APKASINDO, Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Produsen Benih, Penangkar Benih, dan perguruan tinggi.

Selain itu akan dilakukan Field Trip ke perkebunan sawit yang sukses menjalankan PSR dan mampu meningkatkan produktivitasnya.

Artikel Terkait