• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Luncurkan Buku, Eks Menperin Saleh Husein Beberkan Strategi Devisa Ekspor Naik US Miliar dari Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Mantan Menteri Perindustrian (2014-2016) DR. Saleh Husein meluncurkan buku yang berjudul "Hilirisasi Sawit, Cegah Middle Income Trap", di Exibition Hall, Gedung PIDI 4.0 Lantai 8, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2024).

Saleh Husein mengatakan bahwa buku ini berlatarbelakang riset untuk disertasinya mengenai hilirisasi industri sawit untuk memperkuat perekonomian nasonal. Disertasi tersebut pun akhirnya membuat dirinya memperoleh gelar doktor dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) Februari 2024.

“Setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak termasuk Pak Primus, setelah masukan masukan, akhirnya kita bikin buku selain membahas di hilir juga ditarik ke hulu agar mengetahui sawit secara keseluruhan. Sawit produk andalan kita, ekspor mencapai US miliar dan produk yang menguasai pasar dunia. Tidak ada satupun selain sawit yang menguasai dunia dari Indonesia,” ujar Saleh dalam sambutannya.

Meski sawit menguasai pasar minyak nabati dunia, Saleh menyayangkan harga komoditas ini dikendalikan pihak lain, yakni oleh Bursa Malaysia dan Bursa Rotterdam di Belanda.

“Berangkat dari itu saya memperdalam penelitiannya, agar kita betul-betul selain menguasai produk harus menguasai harganya. Tentu dengan berbagai cara,” ujarnya.

Saleh yang juga Managing Director Sinarmas itu, menyebut hilirisasi industri sawit dapat memperkuat perekonomian nasional, karena meningkatkan nilai tambah produk ekspor dan menurunkan impor.

Simulasi yang dilakukan dalam disertasi ini menunjukkan apabila penurunan ekspor produk hulu sebesar 5% dan ekspor produk hilir meningkat 15%, diperkirakan devisa Indonesia akan meningkat sebesar US miliar per tahunnya. Dengan demikian, Produk Domestik Bruto yang merupakan indikator pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat.

Kemudian, dia juga menyoroti negara di Eropa seperti Belanda yang amat tergantung PDB-nya terhadap sawit. Negara kincir angin tersebut juga jadi pengekspor olahan sawit sebesar 1 juta ton per tahun. Padahal, selama ini mereka menganggap negatif sawit bahkan kerap berkampanye hitam soal sawit.

“Belanda ini aneh, padahal negatif campaign kemana mana. Ini aneh,” ucapnya.

Lebih lanjut, Saleh menyebut jika kontribusi sangat besar bagi perekonomian nasional, mulai dari program biodiesel yang bisa menghemat devisa sebesar Rp161 triliun. Di samping itu, program biodiesel juga bisa terjadi pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 35 juta ton.

“Belum lagi industri sawit dapat menampung tenaga kerja termasuk langsung tidak langsung, hingga 20 juta orang. Dari situ jangan sampai hanya tinggal jadi nama. Salah satu mencegah middle income trapi melakukan hilirisasi,” tuturnya.

Dia berharap agar buku yang diterbitkannya tersebut bisa berkontribusi bagi industri sawit Indonesia. Menurutnya, Indonesia pernah punya banyak komoditas yang berjaya tapi lenyap begitu saja.

“Saya berharap lumbung sawit tidak seperti rempah-rempah yang berjaya di abad 15, 16 tapi sekaran sayup sayup saja terdengarnya. Jangan seperti itu kondisinya. Ini pekerjaan penting Pemerintahan Prabowo nanti, karena dia bilang pentingnya sawit bagi perekonomian Indonesia,” ungkapnya.

Dalam peluncuran buku ini, turu dihadiri oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Artikel Terkait