Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Limbah kelapa sawit dan baglog jamur yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan mulai diubah menjadi sumber bahan baku bernilai tambah. Melalui kolaborasi Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY STIPER) dan Universitas Sebelas Maret (UNS), tim peneliti mengembangkan BAGCOM (Baglog Compost), vermikompos yang menggabungkan limbah baglog jamur dengan limbah kelapa sawit.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). BAGCOM dirancang sebagai solusi pengelolaan limbah agroindustri dengan pendekatan circular economy dan konsep zero waste plantation.
Dalam riset tersebut, limbah berbasis spent mushroom substrate (SMS) dari media baglog jamur dicampur dengan limbah kelapa sawit berupa pelepah, daun, dan tandan kosong kelapa sawit (tankos). Campuran bahan organik tersebut kemudian diolah melalui teknologi vermikomposting dengan memanfaatkan cacing tanah Eisenia fetida.
Hasilnya menunjukkan bahwa proses vermikomposting mampu meningkatkan kualitas bahan organik menjadi pupuk yang lebih kaya unsur hara.
Berdasarkan hasil pengujian, kandungan nitrogen (N) meningkat dari 64,33 mg/kg menjadi 217,67 mg/kg. Kandungan fosfor (P) naik dari 90,33 mg/kg menjadi 305 mg/kg, sedangkan kalium (K) meningkat dari 206,67 mg/kg menjadi 697,67 mg/kg.
Tidak hanya meningkatkan kandungan unsur hara, proses tersebut juga berdampak terhadap kesuburan tanah. Indeks kesuburan tanah dari hasil vermikompos tercatat meningkat sekitar 237 persen dibandingkan sebelum proses pengolahan.
Temuan ini menunjukkan BAGCOM berpotensi dikembangkan sebagai bahan pembenah tanah organik untuk mendukung produktivitas tanaman sekaligus menjaga kesehatan tanah secara berkelanjutan.
Ketua Riset PDP BIMA Kemdiktisaintek, Julsento HP, mengatakan pengembangan BAGCOM tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan pupuk organik, tetapi juga membangun model pengelolaan limbah agroindustri yang memberikan manfaat ekologis dan ekonomi.
“Pengembangan BAGCOM tidak hanya berfokus pada menghasilkan produk pupuk organik, tetapi juga menghadirkan model pengelolaan limbah agroindustri yang memberikan manfaat ekologis dan ekonomi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, pada Jum'at (28. Agustus 2026).
Menurut Julsento , limbah kelapa sawit dan limbah baglog jamur yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan dapat dikonversi menjadi produk yang bermanfaat bagi petani. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular pada sektor pertanian dan perkebunan.
Riset BAGCOM diketuai Julsento HP dari AKPY STIPER dengan anggota peneliti Herlina Mega Puspitasari dari UNS dan Nurcahyono dari AKPY STIPER. Kolaborasi tersebut mempertemukan kompetensi bidang perkebunan dan pertanian dalam menghasilkan teknologi pengolahan limbah yang aplikatif.
Ke depan, tim peneliti berharap BAGCOM dapat dikembangkan lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan petani, kelompok tani, pembibitan tanaman (nursery), hortikultura, hingga sektor perkebunan.
Selain memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, BAGCOM juga menawarkan pendekatan biokonversi untuk mengurangi limbah organik. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi sebagai bahan yang bermanfaat.
Pengembangan BAGCOM menjadi contoh bahwa penerapan ekonomi sirkular tidak berhenti pada pengurangan limbah. Limbah agroindustri dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung kesehatan tanah, produktivitas tanaman, dan sistem pertanian berbasis ekonomi hijau.
Kolaborasi AKPY STIPER dan UNS melalui riset PDP BIMA Kemdiktisaintek pun menunjukkan bahwa inovasi teknologi tepat guna dapat menjadi salah satu jalan untuk mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.






