• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Lewati Fase Recovery, Laba Bersih Triputra Agro Capai Rp 484 Miliar di Semester I 2023

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – PT Triputra Agro Persada Tbk menjaga kinerjanya dengan baik setelah berhasil melewati fase recovery sekaligus di tengah tantangan harga jual crude palm oil (CPO), dan palm kernel (PK) yang melandai seiring pergerakan harga komoditas global. Perseroan optimistis setelah recovery, tren pertumbuhan positif masih akan berlangsung hingga akhir tahun.

Presiden Direktur TAPG Tjandra Karya Hermanto menjelaskan selama fase recovery perseroan memiliki strategi untuk fokus mengoptimalkan pemupukan dan mempersiapkan infrastruktur. Hasilnya cukup memuaskan, pada kuartal II - 2023 produksi TBS perseroan (termasuk perusahaan asosiasi) mencapai 779 ribu ton, meningkat hingga 26% dibandingkan kuartal I – 2023. Pertumbuhan tersebut juga ditandai dengan yield yang tinggi sebesar 6 ton per hektar, dengan rata-rata umur tanaman 12,7 tahun.

“Perseroan melihat kelapa sawit saat ini telah melewati masa recovery dan akan menyambut masa panen raya. Iklim yang membaik dan optimalisasi pupuk terbukti memberikan peningkatan produksi hingga double digit pada kuartal II - 2023 dibandingkan kuartal sebelumnya. Perseroan memperkirakan produksi akan membaik pada semester kedua,” katanya dalam keterangan tertulis.

Menyambut panen raya, strategi fase recovery perseroan juga turut ditopang oleh penggunaan teknologi sebagai cornerstone of operational excellence dan program continuous improvement. Selain itu, sebagai mitigasi risiko atas proyeksi El Nino, perseroan juga telah menyiapkan embung-embung air sebagai aksi pencegahan Karhutla. Langkah-langkah ini dilakukan menjaga potensi pertumbuhan produksi pada semester kedua tahun ini.

Dari sisi permintaan, kondisi dalam negeri masih sangat baik didukung pertumbuhan konsumsi masyarakat pada kuartal II - 2023. Selain itu optimalisasi program B35 dengan target penyerapan hingga 13,15 juta kiloliter sampai akhir tahun akan menjadi dukungan penting atas penyerapan CPO di pasar domestik.

“Sementara permintaan ekspor terutama dari Cina dan India juga diprediksi membaik, seiring proyeksi data perekonomian Cina yang akan bertumbuh pada semester dua, dan India akan merayakan Hari Raya Dipawali. Tingginya selisih harga dengan minyak nabati lain seperti soybean oil juga dapat meningkatkan nilai tambah CPO pada perdagangan global. Masih tingginya permintaan, baik di dalam maupun di luar negeri diharapkan dapat menjaga harga jual perseroan pada level yang tinggi sampai akhir tahun ini,” paparnya.

Tren koreksi harga jual CPO sampai kuartal II – 2023 dijelaskan Tjandra memang menjadi salah satu tantangan dalam industri sekaligus berpengaruh langsung pada performa perseroan. Harga jual CPO perseroan sepanjang semester I – 2023 terkoreksi 19%, sementara harga jual PK menurun sampai 50%. Meski demikian, delivery perseroan justru tercatat meningkat 10% yang menandakan permintaan masih cukup kuat dan dapat jadi fondasi pada sisa enam bulan tahun ini.

Total penjualan CPO sampai Semester I – 2023 tercatat senilai Rp 3,4 triliun, sedangkan nilai penjualan PK mencapai Rp 365 miliar. Sedangkan selama enam bulan pertama tahun ini, perseroan berhasil mencatat EBITDA Rp 836 miliar, dan laba bersih Rp 484 miliar, terkoreksi dibandingkan tahun sebelumnya akibat penurunan harga jual dan naiknya ongkos produksi, terutama harga pupuk. Pendapatan perseroan juga turut ditopang keuntungan valas hingga Rp 24,8 miliar yang tumbuh signifikan dibandingkan tahun lalu dengan mencatat kerugian Rp 110 miliar.

Aset perseroan hingga 30 Juni 2023 sebesar Rp 13,7 triliun, menurun 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu disebabkan oleh penurunan aset lancar. Total kewajiban perseroan tercatat menurun hingga 25% menjadi Rp 3,6 triliun akibat pembayaran pinjaman bank. Ekuitas perseroan juga tercatat meningkat hingga 11% mencapai Rp 10,1 triliun.

Artikel Terkait