• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kurikulum Perguruan Tinggi Sawit Perlu Diharmonisasi Sesuai SKKNI

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - Ketua Komite Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Darmansyah Basyaruddin ungkap perlunya harmonisasi atau penyelarasan kurikulum perguruan tinggi sawit berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

“Hal itu, dilakukan untuk memberikan pedoman pada perguruan-perguruan tinggi sawit mitra BPDP, yang menyelenggarakan pendidikan Beasiswa SDM sawit. Agar lulusannya bisa link and match dengan industri sawit,” ungkapnya, saat menyampaikan sambutan penutupan acara Workshop Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI’, pada Jum’at (23 Januari 2026), di Yogyakarta.

“Intinya kurikulum perguruan tinggi sawit mitra BPDP, perlu diharmonisasikan sebagai langkah awal meningkatkan kualitas lulusan. Mengingat dari jumlah 62 program studi di 42 perguruan tinggi (sawit) didedikasikan untuk mendukung industri sawit berkelanjutan,” imbuh Darmansyah.

Standar itu, merujuk pada SKKNI sesuai dengan program studi (prodi) masing-masing. Misalnya untuk unit kompetensi agronomi mengacu pada SKKNI NO. 237 Tahun 2019 Tentang Kelapa Sawit Berkelanjutan, yang dijabarkan dengan Kepmentan No 410/KPTS/SM.250/M/6/2020 tentang Jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Tenaga Kerja Sektor Pertanian Bidang Kelapa Sawit Berkelanjutan. Sementara, SKKNI NO. 313 Tahun 2013 Tentang kategori industri pengolahan bidang kerja pengelolaan kebun kelapa sawit, dijabarkan dengan Kepmenaker No. 313 Tahun 2013, untuk unit kompetensi asisten pabrik (mill).

“Seterusnya, sesuai dengan unit-unit kompetensi (red-prodi) lain seperti metatronika, permesinan, akuntansi merujuk pada sektor masing-masing, sesuai dengan prodi yang ada di pendidikan tinggi Beasiswa SDM Sawit,” jelas Darmansyah.

“Jadi dengan menyelaraskan kurikulum pada akhirnya akan menyelaraskan profil lulusan, capaian profil lulusan hingga pembelajaran semester sampai pada silabus semua harus sama. Sehingga standar (SKKNI) berlaku sama di semua perguruan tinggi mitra BPDP,” imbuhnya.

Diketahui, dari 62 prodi di 42 perguruan tinggi sawit mitra BPDP memiliki kurikulum bervariasi, hal ini berdampak pada pembelajaran dan lulusannya yang belum bisa menjawab kebutuhan industri sawit atau tidak link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Ini yang tidak kita inginkan. Tetapi, pada pembelajaran tahun akademik mendatang, dapat dipastikan kurikulum masing-masing prodi sudah dipastikan sudah mengacu pada SKKNI. Sehingga, kami berharap dengan kurikulum yang harmonis (red-selaras) untuk perguruan tinggi mitra BPDP mampu menghasilkan SDM dengan profil lulusan yang sepadan,” ucap Darmansyah.

Menurutnya, kurikulum merupakan bagian esensial dari penyelenggaraan pendidikan karena memiliki fungsi sebagai guide line. Dengan kurikulum perguruan tinggi sawit berbasis SKNNI menjadi ciri khas dari para lulusan. Sebab memiliki kompetensi yang dimiliki untuk bekerja sebagai apa sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.

“Jadi, akan terjadi link and match antara perguruan tinggi sawit dengan industri sawit,” tegas Ketua Komite Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit, BPDP.

Rekomendasi dari praktisi dan akademisi

Penyelarasan kurikulum dilakukan melalui working group pada “workshop pengembangan kurikulum perguruan tinggi sawit berbasis SKKNI’, yang dalam pelaksanaannya melibatkan Asosisasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (ALPENBUN). Workshop tersebut, diikuti 38 perguruan tinggi sawit dari 42 perguruan tinggi mitra BPDP.

Working group menghadirkan pakar (praktisi) dan akademisi dari perguruan tinggi dan pelaku usaha (perusahaan sawit). Working group ini terbagi menjadi empat kelompok yaitu budidaya/agronomi, pabrik (mill), manajemen, teknologi dan IT.

“Selama dua hari (22 – 23 Januari 2026), peserta mendapatkan masukkan dari narasumber (pakar dan praktisi), dan membedah kebutuhan SDM di industri. Sehingga dapat memberikan rekomendasi untuk merumuskan kurikulum sesuai standar dan link and match dengan kebutuhan industri sawit,” ungkap Darmansyah.

Untuk memastikan kurikulum sesuai standar SKKNI masing-masing prodi, pihak BPDP akan melakukan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Lebih lanjut, Darmansyah menambahkan kurikulum yang telah diharmonisasi atau diselaraskan sesuai SKKNI, akan kami kawal pelaksanaan atau implementasinya. Hal ini akan dilakukan oleh tim komite pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit dari BPDP,” kata Darmansyah.

“Kami akan melakukan secara berkala sehingga tujuan dari pendidikan Beasiswa SDM sawit yaitu menyediakan SDM yang bisa mendukung dan mewujudkan industri sawit (hulu – hilir) berkelanjutan. Hal ini juga akan berlanjut hingga nantinya kita mengetahui seberapa besar serapan lulusan dari perguruan tinggi sawit mitra BPDP,” pungkasnya.

Artikel Terkait