• Kamis, 8 Oktober 2026
Pojok Koperasi

KSU Al-Faiz Mandiri Mampu Sejahterakan 300 Petani Sawit

Koperasi Serba Usaha (KSU) Al-Faiz Mandiri sangat kreatif dalam mengembangkan kegiatan ekonomi petani. Tak hanya mandiri secara finansial tetapi dapat meningkatkan kesejahteraan sekitar kebun sawit.

Penjuangan Siti Marfuah berupaya menyejahterakan masyarakat (petani sawit) patut menjadi tauladan bagi petani sawit lain di Indonesia. Terutama yang tengah berjuang meremajakan kebunnya.

Pasalnya, perempuan ini tidak seperti petani kelapa sawit lainnya di Sumatera Selatan. Ia memulai karirnya sebagai seorang bidan yang handal, namun kemudian menjadi seorang pegiat peremajaan kelapa sawit (PSR) pada 2016 setelah menyaksikan dampak peremajaan terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat dan pemberdayaan perempuan.

Delapan tahun berikutnya, Siti menjadi pemimpin salah satu kelembagaan petani sawit yang cukup visioner. Ia dipercaya menjadi pemimpin Koperasi Serba Usaha (KSU) Al-Faiz Mandiri dan telah berhasil menaikkan pendapatan serta mata pencaharian lebih dari 300 petani di Sumatera Selatan.

Keputusan untuk beralih dari pekerjaan sebelumnya, lalu mengelola perkebunan kelapa sawit merupakan keputusan yang diambil karena keinginannya untuk membawa perubahan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

“Saya melihat potensi program PSR tidak hanya untuk meremajakan perkebunan kami yang sudah menua.Tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan perempuan setempat untuk mencapai kondisi ekonomi yang lebih baik,” ujar Siti dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Majalah Sawit Indonesia.

Namun, dalam menjalankan program PSR, Siti dan kelembagaan petaninya (KSU - Al Faiz Mandiri) tidak semudah yang dibayangkan. Tantangan pun tidak dapat dihindari, salah satunya mereka harus meyakinkan petani swadaya di Sumatera Selatan untuk meninggalkan praktik pertanian tradisional dan beralih ke praktik pertanian yang berorientasi pada hasil melalui praktik-praktik pertanian yang baik.Selanjutnya, terus berupaya mencari modal dan bantuan teknis untuk mengganti pohon kelapa sawit yang sudah tua dan tidak produktif dengan yang baru.

“Kami menyadari sejak awal bahwa tantangan-tantangan ini hanya dapat diatasi dengan mengadopsi pendekatan kolaboratif yang didasari oleh tujuan untuk memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Siti.

Pendekatan kolaboratif

Pendekatan kolaboratif yang dicita-citakan oleh Siti membawa KSU ke tahap kemitraan strategis dengan Sinar Mas Agribusiness and Food melalui anak perusahaannya, PT Djuanda Sawit Lestari. Melalui program PSR dengan jalur kemitraan, lebih dari Rp150 miliar diinvestasikan untuk mendanai bibit dan pupuk di 1.315 hektar lahan pertanian.

Pendanaan ini membantu petani swadaya untuk mengatasi tantangan dalam mengakses pinjaman yang lebih terjangkau melalui lembaga keuangan.

Didorong oleh keyakinannya akan pemberdayaan perempuan, Siti memastikan bahwa perempuan di komunitasnya mendapatkan sarana untuk mandiri dengan bergabung dalam program ini.

Dalam waktu tiga tahun sejak Siti bergabung dengan koperasi, lebih dari 100 perempuan, terutama dari desa sekitar Marga Sakti, Lubuk Pandan, dan Muara Lakitan, telah berpartisipasi aktif dalam program PSR. Partisipasi mereka tidak hanya menghasilkan kemandirian finansial, tetapi juga menumbuhkan semangat dan kebanggaan diri.

Dampak dari program PSR telah melampaui pemberdayaan individu. Lebih dari 300 petani telah merasakan peningkatan hasil panen sebesar 30%, yang berdampak pada meningkatnya pendapatan mereka secara signifikan. Pendapatan per rumah tangga telah mencapai Rp 3.144.446, dan ini merupakan pendapatan yang kompetitif di Kabupaten Musi Rawas.

(Selangkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 160)

Artikel Terkait