• Minggu, 1 November 2026
Profil Produk

KSO Kebun Adolina Sukses Bukukan Penjualan Benih di SIEXPO 2026

Partisipasi KSO Kebun Benih Adolina (PT Perkebunan Nusantara IV Regional 2) pada ajang SI Expo 2026 membuahkan hasil positif. Sepanjang pameran berlangsung, booth milik unit usaha perkebunan ini terus dipadati pengunjung yang ingin mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit unggul.

Manajer KSO Kebun Benih Adolina, Mahmud Irfan Lubis, menyampaikan bahwa respons masyarakat dan pelaku industri terhadap produk yang ditawarkan sangat tinggi. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat-lihat, tetapi juga aktif menggali informasi teknis.

"Pengunjung sangat antusias terhadap penawaran bahan tanaman unggul yang kami produksi. Mereka menanyakan persyaratan dan jangka waktu pemesanan, hingga berdiskusi mendalam mengenai kultur teknis serta perawatan varietas tersebut pasca-tanam," ujar Mahmud.

Rata-Rata 100–150 Pengunjung per Hari dari Berbagai Wilayah

Setiap harinya, booth KSO Kebun Benih Adolina mencatat tingkat kunjungan rata-rata 100 hingga 150 orang. Pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah sentra perkebunan di Indonesia, di antaranya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara

Antusiasme tersebut berbanding lurus dengan potensi transaksi bisnis yang berhasil dihimpun. Melalui kesepakatan pembuatan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) baru selama pameran, nilai potensi transaksi mencapai sekitar Rp4 miliar. Mahmud menegaskan bahwa melihat potensi pesanan yang masuk, terdapat peningkatan yang cukup nyata dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Pada pameran kali ini, harga kecambah kelapa sawit tetap berlaku standar tanpa diskon khusus. Namun, KSO Kebun Benih Adolina memberikan penawaran menarik berupa fasilitas bebas biaya kirim (free ongkir) bagi pemesanan yang diambil langsung di lokasi acara.

Mahmud Irfan Lubis, mengatakan SIEXPO menjadi momentum strategis untuk menjangkau pelaku industri sawit, mulai dari perusahaan perkebunan, penangkar benih, hingga petani.

“Riau merupakan provinsi dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Selain itu, SIEXPO akan dihadiri berbagai pemangku kepentingan sektor sawit sehingga menjadi ajang yang tepat untuk memperluas pemasaran,” ujarnya.

KSO Kebun Benih Adolina merupakan kerja sama bisnis antara PT Perkebunan Nusantara IV Regional II dan PT Riset Perkebunan Nusantara (Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PPKS). Unit produksi yang berlokasi di Kebun Adolina, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, tersebut memproduksi benih sawit unggul Varietas PPKS 540, Simalungun, Yangambi, dan AVROS.

Sejak memulai produksi pada 2016, jutaan benih telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Sulawesi.

Sepanjang 2025, KSO Adolina menyalurkan lebih dari 2,6 juta butir benih kelapa sawit. Sebanyak 77% di antaranya diserap perusahaan penangkar benih kelapa sawit, 17% oleh BUMN dan anak usahanya, sedangkan 6% dipasarkan kepada petani.

Mahmud mengatakan permintaan terhadap benih sawit unggul masih menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan 2026, perusahaan masih memiliki pesanan sekitar 1,4 juta kecambah yang harus dipenuhi hingga akhir tahun.

“Tingginya permintaan menunjukkan kebutuhan industri terhadap benih unggul masih sangat besar, terutama untuk mendukung program peremajaan maupun pengembangan kebun sawit,” katanya.

Pada SIEXPO 2026, KSO Adolina menampilkan empat varietas unggulan yaitu PPKS 540, Simalungun, Yangambi, dan AVROS.

Keempat varietas tersebut memiliki tingkat kemurnian sangat tinggi dengan kontaminasi non-Tenera sekitar 0,02% atau setara 99,8% Tenera. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan batas maksimum Standar Nasional Indonesia (SNI) 8211:2023 sebesar 2%.

Selain itu, benih tersebut memiliki produktivitas tandan buah segar dan rendemen minyak yang tinggi serta mampu memasuki masa produksi lebih cepat apabila didukung penerapan budidaya yang baik.

Untuk menjaga kepuasan pelanggan, KSO Adolina juga menyediakan layanan purna jual. Perusahaan melakukan pendampingan kepada pelanggan yang memenuhi persyaratan tertentu, disertai survei rutin minimal sekali dalam setahun.

Hasil survei tersebut dianalisis menggunakan metode statistik untuk mengevaluasi performa benih di lapangan sekaligus menjadi dasar perbaikan pada seluruh proses produksi dan pelayanan.

“Kami tetap melakukan pendampingan melalui program purna jual dan survei terintegrasi yang hasilnya dianalisis secara statistik. Evaluasi tersebut menjadi dasar bagi kami untuk terus melakukan perbaikan pada seluruh proses produksi maupun pelayanan sehingga kualitas benih yang kami hasilkan tetap terjaga,” pungkas Mahmud.

Artikel Terkait