SAMPIT, SAWIT INDONESIA – Memasuki musim kemarau, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sinergi antara perusahaan, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus meminimalkan risiko kebakaran yang kerap meningkat pada musim kering.
Komitmen tersebut diwujudkan Wilmar melalui penyelenggaraan training pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta apel siaga kebakaran hutan di wilayah operasional perusahaan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan internal, tetapi juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak agar respons terhadap potensi kebakaran dapat dilakukan secara cepat dan terpadu.
Head Environment, Health, and Safety (EHS) Plantations PT Mustika Sembuluh (Wilmar Group), Novrie Ronaldy, mengatakan pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, langkah pencegahan merupakan strategi paling efektif dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, perusahaan secara konsisten meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan, pemeliharaan sarana dan prasarana, simulasi penanganan kebakaran, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Setiap tahun kami terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan, perawatan sarana prasarana, simulasi, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pihak," ujar Novrie dalam siaran pers, Kamis (10/7).
Kegiatan tersebut melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah yang diwakili camat dan kepala desa, Kepolisian, TNI, perusahaan, serta perwakilan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Sebanyak 82 peserta yang terdiri atas karyawan perusahaan dan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) mengikuti simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari peningkatan kapasitas menghadapi kondisi darurat.
Novrie menegaskan, risiko kebakaran tidak mengenal batas wilayah sehingga tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja. Karena itu, sinergi antarpemangku kepentingan menjadi fondasi penting dalam memperkuat sistem deteksi dini, mempercepat respons ketika muncul titik api, serta mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.
"Kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman, menjaga kelestarian lingkungan, serta meminimalkan risiko kebakaran selama musim kemarau," tegasnya.
Selain memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan perusahaan, Wilmar juga aktif bergabung dalam Fire Free Alliance (FFA), sebuah kolaborasi antara perusahaan dan organisasi non-pemerintah (NGO) yang berfokus pada upaya pencegahan karhutla.
Melalui FFA, berbagai program pencegahan dijalankan tidak hanya di dalam area operasional perusahaan, tetapi juga menjangkau wilayah masyarakat hingga radius lima kilometer. Program tersebut meliputi edukasi kepada masyarakat, peningkatan kapasitas, kampanye pencegahan, serta penguatan kerja sama dalam mendeteksi dan mencegah kebakaran sejak dini.
Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, Wilmar berharap upaya pencegahan karhutla dapat semakin efektif sehingga mampu melindungi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus mendukung keberlanjutan operasional perkebunan yang bertanggung jawab.














