• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Kolaborasi BPDP dan PASPI Advokasi Sawit ke Mahasiswa Kalimantan Selatan

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sukses melaksanakan advokasi sawit kepada mahasiswa Kalimantan Selatan. Advokasi sawit tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Bedah dan Diseminasi Buku yang berjudul “Mitos Vs Fakta: Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global Edisi Keempat”. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarbaru pada hari Sabtu tanggal 20 September 2025.

Penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PASPI dan BPDP dengan Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP) dan Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.

Meskipun dilaksanakan di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat, kegiatan Bedah dan Diseminasi Buku tersebut tidak hanya diikuti oleh mahasiswa ULM saja. Peserta kegiatan juga berasal dari universitas lain di Kalimantan Selatan, seperti STIE Pancasetia, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary, Universitas Borneo Lestari, dan Universitas Islam Negeri Antasari. Selain mahasiswa dan dosen, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan asosiasi pelaku sawit GAPKI dan DPW APKASINDO Kalimantan Selatan.

Perwakilan Universitas Lambung Mangkurat yakni Dr. Ir. Arief Rahmad Maulana Akbar, M.Si., IPU (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum ULM) dan Prof. Dr. Ir. Ika Sumantri,S.Pt., M.Si., M.Sc (Wakil Dekan Fakultas Pertanian ULM) juga turut hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan Bedah dan Diseminasi Buku Mitos Vs Fakta Sawit Edisi Keempat.

Dalam sambutannya, kedua pejabat ULM tersebut menyampaikan bahwa sawit merupakan komoditas penting yang memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Fakta lapangan juga menunjukkan bahwa perkebunan sawit mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, dinamika juga turut mewarnai industri sawit yakni dengan masifnya berbagai kampanye maupun isu negatif yang menyudutkan sawit. Oleh karena itu, diharapkan melalui forum akademi kini dapat disampaikan data dan fakta berbasis riset untuk meluruskan informasi yang menyudutkan sawit sehingga mahasiswa dapat memahami mana fakta atau hanya sekadar hoax.

Senada dengan Wakil Rektor dan Dekan Fakultas Pertanian ULM, kontribusi industri sawit dalam perekonomian juga turut disampaikan oleh Bapak Helmi Muhansyah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BPDP.

Dalam keynote speech yang disampaikan secara virtual pada kegiatan tersebut, Bapak Helmi Muhansyah menyampaikan besarnya kontribusi industri sawit dalam neraca perdagangan Indonesia. Kontribusi tersebut ditunjukkan dengan devisa ekspor sawit yang mampu menghasilkan surplus besar pada neraca perdagangan non-migas. Implementasi program mandatori biodiesel (B40) juga mampu mengurangi defisit neraca migas Indonesia.

Tidak hanya pada level makro, nilai kebaikan sawit juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, khususnya UMKM. Saat ini UMKM berbasis sawit sudah banyak berkembang. BPDP juga memiliki program untuk mencetak 1,000 UMKM Perkebunan, termasuk UMKM Sawit, yang bertujuan untuk mengembangkan UMKM di Indonesia. Program tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya untuk mengembangkan bisnis skala mikro dan menengah.

Membuka sesi diskusi, Dr. Tungkot Sipayung selaku Ketua tim penyusun buku Mitos Vs Fakta Sawit, menyampaikan bahwa Indonesia telah menjadi pemain penting dalam pasar minyak nabati global karena menjadi produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Minyak sawit juga menjadi minyak nabati utama di dunia. Kondisi ini memunculkan persaingan antar minyak nabati dunia. Dalam persaingan harga (competitive price), minyak sawit sulit terkalahkan karena produktivitas minyak yang tinggi menyebabkan harganya paling kompetitif. Oleh karena itu, digunakan non-price competition strategy melalui penyebaran isu negatif sawit baik dalam aspek ekonomi, sosial, lingkungan, maupun kesehatan. Penyebaran isu-isu tersebut dimaksudkan merubah mindset dan preferensi konsumen menjadi anti-sawit sehingga menurunkan konsumsi minyak sawit.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan bedah buku oleh tiga dosen Universitas Lambung Mangkurat. Ketiga dosen tersebut berasal dari jurusan/prodi yang berbeda yakni ekonomi, agronomi, dan gizi. Dengan komposisi dosen pembahas buku yang demikian, diharapkan pembahasan buku menjadi lebih dalam dan komprehensif.

Dari perspektif ekonomi, pembahasan buku disampaikan oleh Ir. Umi Salawati, M.Si (Dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian). Dalam paparannya diungkapkan bahwa kelapa sawit berkontribusi dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Kondisi ini membuat banyak masyarakat yang tertarik untuk ikut berusaha tani sawit. Fakta di lapangan juga menunjukkan sekelompok petani jeruk di Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan ingin mengkonversi lahannya menjadi lahan sawit karena dianggap lebih menguntungkan (biaya perawatan lebih murah dengan pendapatan kontinu) serta lebih tahan terhadap banjir dan kekeringan.

Sementara dari perspektif agronomi, Yudhi Ahmad Nazari, S.P., M.P (Dosen Prodi Agronomi Fakultas Pertanian) menyampaikan bahwa kelapa sawit adalah tanaman yang ajaib yang dianugerahkan kepada Indonesia. Selain keunggulan produktivitas yang mampu menghasilkan minyak dengan lahan yang relatif hemat, kelapa sawit juga memiliki peran untuk ekologi. Namun dalam pengembangan kelapa sawit di Kalimantan Selatan maupun provinsi lainnya perlu memperhatikan tata ruang, pembukaan dan pengelolaan yang mengacu pada kaidah keberlanjutan, memperhatikan masyarakat sekitar, serta kolaborasi antar stakeholder untuk mendukung industri sawit yang berkelanjutan.

Dosen pembahas ketiga yang membahas buku Mitos Vs Fakta Sawit dalam aspek gizi/kesehatan yakni M. Irwan Setiawan, S.Gz., M.Gz (Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat). Dalam paparannya semakin menegaskan fakta dalam buku yang meng-counter minyak sawit mengandung kolesterol, dimana isu tersebut sudah melekat dalam persepsi masyarakat. Dosen Gizi tersebut juga menjelaskan bahwa minyak sawit tidak mengandung kolesterol. Minyak sawit justru mengandung fito sterol (sterol nabati) yang berfungsi untuk mengurangi kadar kolesterol di dalam darah. Kandungan squalene dan polifenol dalam minyak sawit juga memiliki fungsi untuk menghambat penyerapan, reabsorpsi, dan sintesis kolesterol.

Menutup sesi diskusi melalui closing statement, Dr. Tungkot Sipayung menyampaikan bahwa sawit itu perlu banyak perbaikan namun hal tersebut bukan menjadi alasan untuk tidak mendukung sawit. Mari kita dukung sawit dan dukung perbaikan melalui riset dan tata kelola serta kolaborasi antar stakeholder. Upaya tersebut akan membawa industri sawit semakin baik dan berkelanjutan sehingga lebih menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Artikel Terkait