• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

KLHK – ITTO Gelar Seri Ke-6 Webinar Forest Fire Prevention Management and Rehabilitation

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – International Tropical Timber Organization (ITTO) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Regional Fire Management Resources Center – South East Asia (RFMRC-SEA) menggelar seri webinar lanjutan ke-6 dengan tema Forest Fire Prevention Management and Rehabilitation (21/12/2021) Jhun B Barit, Filipina Forest Management Bureau, menyampaikan paparan dengan topik Forest Fire Prevention, Mitigation, Response and Management: Philippine Context. Jhun mendeskripsikan kondisi penutupan lahan, historis kejadian kebakaran, serta tata kelola pengendalian kebakaran hutan di Filipina. Jhun mengungkapkan pencegahan, pemadaman dan rehabilitasi areal terbakar termasuk dalam terminologi pengendalian kebakaran hutan. Pengendalian kebakaran hutan setidaknya terdiri dari pencegahan, mitigasi dan respon. Kegiatan pencegahan meliputi pelibatan partisipasi masyarakat, identifikasi penyebab kebakaran di masyarakat, pemetaan kondisi masyarakat, termasuk pelibatan stakeholder terkait. “Sedangkan intervensi mitigasi mencakup rencana pemadaman dini oleh masyarakat, pembentukan dan pengelolaan tim pengendali kebakaran, pengembangan sistem komunikasi dan deteksi dini kebakaran, pembangunan sekat bakar, pengadaan peralatan kebakaran. Terkait aspek respon berupa pembentukan dan optimalisasi peran tim rekasi cepat, serta pelaksanaan pemadaman berbasis pemetaan spasial,” jelas Jhun. “Beberapa hal yang perlu diperkuat dalam pengendalian kebakaran hutan meliputi pembentukan dan pemanfaatan Fire Danger Rating System (FDRS), penetapan Incident Command System, serta penguatan sinergi dan Kerjasama para pihak dalam pencegahan kebakaran hutan,” tegas Jhun. Pembicara kedua, Janice Ser Huay Lee, University of Singapore, menyampaikan bahasan tentang Vegetation of Tropical Peatlands for Fire Management. Janice mengawali paparannya dengan historis drainase dan deforestasi lahan gambut, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan. Kebakaran hutan di lahan gambut juga mengakibatkan bencana asap di Asia Tenggara. Dalam upaya restorasi lahan gambut, terdapat tiga tahapan intervensi yang dikenal dengan 3R, yaitu rewetting, revegetation, dan revitalization of livelihood. Janice mengungkapkan dalam mendorong upaya restorasi lahan gambut di tropis, kami melakukan pendekatan sosio-ekologis. Kegiatan ini meliputi analisis reforestasi lahan gambut serta tingkat kemudahan terbakar dan dekomposisi dari tanaman. Analisis reforestasi dimaksudkan untuk mencari tahu karakteristik tanaman yang digunakan untuk revegetasi, intervensi yang dilakukan dan mengukur tingkat kemampuan tumbuh benih/bibit di lokasi. “Sedangkan informasi terkait tingkat kemudahan terbakar dan dekomposisi tanaman dimaksudkan untuk mencari tahu karakteristik spesies/vegetasi di lahan gambut terkait tingkat kemudahan terbakar dan proses dekomposisinya. Informasi karakteristik tingkat kemudahan terbakar dan dekomposisi serta review terhadap jenis tanaman yang telah ditanam dapat memberikan acuan/pertimbangan dalam pemilihan jenis/spesies untuk upaya reforestasi ke depan,” tandas Janice. Narasumber ketiga, Yenni Vetrita, menyampaikan paparan terkait Indonesia’s fire history using remote sensing. The challenges, opportunities, and prospects of mapping. Yenni menyampaikan analisis spasial dan temporal terkait hotspot dan area terbakar yang saat ini dilakukan, termasuk terkait metode dan sumber data yang digunakan. Ke depan, tantangan terkait pemetaan spasial kebakaran hutan mencakup analisis magnitude dan lokasi kebakaran, cakupan awan dan asap kebakaran, serta proses validasinya. Dalam rangka menjawab tantangan dimaksud, terdapat banyak peluang yang bisa dioptimalkan pemanfaatannya, antara lain penggunaan sumber daya yang lebih beragam (VIIRS, Landsat, Himawari), platform dan metode yang lebih bervariasi (machine learning, Google Earth Engine, dsb), serta kemampuan penyediaan data yang lebih lengkap dari resolusi rendah hingga tinggi yang dapat digunakan untuk proses validasi. “Remote sensing dapat menjadi alat utama dalam mengungkap informasi terkait historis kebakaran. Tidak hanya terkait sumber data, namun metode dan pengelolaan ‘big data’ terus berkembang dari waktu ke waktu. Perlu dikembangkan suatu platform terintegrasi dalam mendukung monitoring kebakaran hutan baik di tingkat nasional, regional maupun global’’, tambah Yenni. Dalam seri webinar ini juga menghadirkan 2 (dua) pembicara tamu yaitu Sue Yip dan Hilario Padilla yang berbagi terkait dengan program pertanian lahan tanpa membakar yang diberikan kepada masyarakat, serta pendekatan pelibatan masyarakat dalam upaya pengendalian kebakaran berbasis sains. Pelaksanaan webinar dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan kanal Live Youtube, dengan jumlah total peserta lebih dari 80 orang, dengan latar belakang yang cukup beragam, mencakup akademisi, peneliti, sektor pemerintahan, sektor swasta, mahasiswa, maupun NGO. Para peserta webinar tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari Singapura, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Timor Leste. Sumber: sipongi.menlhk.go.id

Artikel Terkait