• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kinerja Sektor Pertanian Positif Tapi Hadapi Tantangan El Nino

Tangerang, SAWIT INDONESIA - Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian negara. Sektor pertanian tidak hanya memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat pedesaan, tetapi juga memainkan peran kunci dalam menyediakan makanan, pangan, dan bahan baku untuk industri lainnya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo Menteri Pertanian saat acara Perkebunan Indonesia Expo (BUNEX), pada Kamis (7 September 2023), di Tengerang, Banten.

Meski sektor pertanian berperan besar pada perekonomian nasional, namun berbagai tantangan juga tengah dihadapi yaitu ancaman El Nino yang berdampak pada kekeringan yang lebih ekstrem dan cuaca panas yang berkepanjangan. Selain itu, cuaca yang sangat panas juga dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, yang dapat merusak tanaman pertanian serta hutan yang menjadi sumber air dan ekosistem penting.

Dikatakan Mentan Syahrul, menghadapi tantangan tersebut, patut disyukuri bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) perkebunan pada triwulan II tahun 2023. "Menunjukkan kinerja positif jika dibandingkan Y on Y dengan tahun 2022 sebesar 3,71% dari Rp 200,48 T menjadi 207,92 T. Kontribusi PDB perkebunan untuk PDB pertanian sebesar 37,16% dari Rp Rp 559,52 T," ucapnya.

Diketahui bahwa PDB sektor perkebunan mengacu pada peningkatan nilai produksi dan kontribusi ekonomi yang dihasilkan oleh aktivitas pertanian yang fokus pada tanaman-tanaman seperti kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan lain-lain. Apabila dilihat dari capaian nilai ekspor-impor perkebunan sampai dengan triwulan II mengalami kenaikan dari bulan Januari sampai dengan Juni sebesar 4,27% dari Rp 43,66 T menjadi Rp 47,93 T dengan kontribusi terbesar berasal dari komoditas Kelapa Sawit sebesar 78,55% (Rp 37,64 T). Kelapa Sawit, telah menjadi bagian penting dari ekonomi di beberapa negara.

"Capaian ini patut kita syukuri karena hal ini membuktikan bahwa roda pemulihan ekonomi domestik terus bergerak cepat di tengah perlambatan ekonomi global yang saat ini tengah berlangsung di berbagai negara di dunia. Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada tahun 2023 paling besar disumbang oleh komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi. Hal ini menunjukkan bahwa peluang ekspor komoditas perkebunan sebagai salah satu sumber devisa negara masih terus meningkat," kata Mentan Syahrul.

Di tengah beberapa capaian positif tersebut, diperlukan komitmen dalam mempersiapkan menghadapi el nino. "Kita harus tetap hati-hati dan waspada dalam memutuskan suatu kebijakan terutama untuk menghadapi el nino harus ada langkah extraordinary dan komitmen bersama dari semua pihak untuk menghadapi tantangan ini, baik terkait dengan ketahanan dan kemandirian pangan," tegas Menteri Syahrul.

Lebih lanjut, ia mengatakan harus selalu diperhatikan dan dijadikan fokus utama di antaranya Identifikasi dan mapping lokasi terdampak kekeringan, serta mengelompokkan menjadi daerah merah, kuning dan hijau, Percepatan tanam untuk mengejar sisa hujan, Peningkatan ketersediaan alsintan untuk percepatan tanam, Peningkatan ketersediaan air dengan membangun/memperbaiki embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, serta pompanisasi.

"Penyediaan benih tahan kekeringan dan OPT. Program 1000 ha per kabupaten adaptasi dan mitigasi dampak El Nino. Gerakan Nasional (Gernas) El-Nino (Pertambahan Pertanaman 500.000 ha) di 10 Provinsi dan 100 Kabupaten, Pengembangan pupuk organik terpusat dan mandiri, Dukungan pembiayaan KUR dan Asuransi Pertanian, Penyiapan Lumbung Pangan Sampai Tingkat Desa," pungkas Mentan SYL.

Artikel Terkait