• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Ekspor Sawit Mei Anjlok 28%, Stok Nasional Naik Jadi 3,04 Juta Ton

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Stok minyak sawit nasional meningkat pada Mei 2026 seiring penurunan ekspor dan konsumsi domestik yang lebih dalam dibandingkan penurunan produksi. Di sisi lain, secara kumulatif sepanjang lima bulan pertama tahun ini, kinerja industri sawit Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif baik dari sisi produksi, konsumsi, maupun ekspor.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kamis (14 Juli 2026, stok akhir minyak sawit pada Mei 2026 mencapai 3,042 juta ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi awal tahun sebesar 2,068 juta ton.

Kenaikan stok terjadi setelah total produksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) pada Mei mencapai 4,552 juta ton atau turun 7,16% dibandingkan April 2026 yang sebesar 4,903 juta ton. Penurunan produksi dipicu melemahnya produksi CPO menjadi 4,165 juta ton dari 4,479 juta ton pada April, sementara produksi PKO turun menjadi 387 ribu ton dari sebelumnya 424 ribu ton.

Meski produksi menurun, penurunan konsumsi domestik dan ekspor tercatat lebih tajam sehingga pasokan di dalam negeri bertambah.

Total konsumsi domestik pada Mei tercatat sebesar 2,078 juta ton atau turun 2,98% dibandingkan April yang mencapai 2,141 juta ton. Pelemahan terutama berasal dari konsumsi biodiesel yang turun menjadi 1,035 juta ton dari 1,137 juta ton pada bulan sebelumnya.

Sebaliknya, konsumsi untuk kebutuhan pangan meningkat tipis menjadi 856 ribu ton dari 831 ribu ton. Konsumsi sektor oleokimia juga naik menjadi 187 ribu ton dibandingkan 173 ribu ton pada April.

Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor produk sawit mengalami penurunan paling signifikan. Total ekspor pada Mei hanya mencapai 1,996 juta ton atau merosot 28,14% dibandingkan April yang sebesar 2,777 juta ton.

Penurunan terjadi hampir di seluruh kelompok produk. Ekspor olahan minyak sawit turun 30,26% menjadi 1,423 juta ton, ekspor CPO anjlok 79,7% menjadi hanya 31 ribu ton, sementara ekspor olahan minyak inti sawit turun 43,4% menjadi 55 ribu ton.

Secara nilai, ekspor produk sawit pada Mei tercatat sebesar US,49 miliar, turun 26,3% dibandingkan April yang mencapai US,38 miliar. Penurunan tersebut juga dipengaruhi pelemahan harga CPO internasional, dengan rata-rata harga CPO CIF Rotterdam turun menjadi US.453 per ton dari US.566 per ton pada April.

Berdasarkan negara tujuan, penurunan ekspor bulanan terjadi hampir ke seluruh pasar utama. Pengiriman ke China turun 30%, India turun 60%, Afrika turun 36%, Uni Eropa turun 5%, Amerika Serikat turun 37%, serta Malaysia turun 36%. Di tengah tren pelemahan tersebut, ekspor ke Rusia justru melonjak 216% dibandingkan April.

Meski demikian, GAPKI mencatat kinerja industri sawit sepanjang Januari—Mei 2026 masih menunjukkan tren pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produksi CPO dan PKO secara kumulatif mencapai 25,013 juta ton atau meningkat 10,68% dibandingkan Januari-Mei 2025 yang sebesar 22,6 juta ton.

Konsumsi domestik juga naik 5,33% menjadi 10,743 juta ton dari 10,2 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, total ekspor mencapai 13,32 juta ton atau tumbuh 10,26% dibandingkan realisasi Januari-Mei 2025 sebesar 12,08 juta ton. Dari sisi nilai, ekspor produk sawit mencapai US,526 miliar atau meningkat 13,82% dibandingkan US,641 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan nilai ekspor tersebut ditopang oleh harga CPO yang relatif lebih tinggi. Selama Januari—Mei 2026, rata-rata harga CPO CIF Rotterdam mencapai US.417 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun lalu sebesar US.186 per ton.

Secara kumulatif, ekspor ke sejumlah pasar utama juga masih mencatat pertumbuhan. Pengiriman ke China meningkat 46% dibandingkan Januari-Mei 2025, disusul India naik 3%, Afrika naik 14%, dan Uni Eropa naik 3%. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tercatat turun 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Artikel Terkait