Jakarta, SAWIT INDONESIA - Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan, Wijayanto, menegaskan bahwa India masih menjadi pasar strategis bagi ekspor sawit Indonesia, meskipun dinamika global menunjukkan penurunan.
Dalam webinar INDEF Palm Oil as a Strategic Corridor: Strengthening Indonesia-India Economic and Trade Cooperation, Senin (22/9/2025), Wijayanto mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir (2020–2024) impor sawit India dari Indonesia tetap tumbuh 0,6 persen. Padahal, pada periode yang sama, ekspor sawit dunia justru turun 12,2 persen.
“India adalah importir besar, menyerap sekitar 20 persen dari seluruh ekspor sawit global. Pada 2024, Indonesia memasok sekitar 50 persen dari total kebutuhan sawit India,” jelasnya.
Menurut Wijayanto, permintaan sawit di India menunjukkan tren berbeda di masing-masing sektor. Penggunaan untuk energi, termasuk biofuel, Palm Oil Mill Effluent (POME), dan fatty alcohol, meningkat 14,51 persen pada 2024. Sementara itu, ekspor produk olahan berbasis sawit dari India ke Uni Emirat Arab (UEA) juga melonjak hingga 50 persen. Tapi, kata dia, mayoritas CPO sebagai bahan dasar produk India tersebut berasal dari Indonesia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia dan India memiliki hubungan dagang yang semakin erat, termasuk melalui pemanfaatan kawasan perdagangan bebas ASEAN–India yang dapat memangkas biaya bea masuk. “Kami menekankan bahwa kebijakan ekspor sawit selalu diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberterimaan di pasar global,” ujarnya.
Sejak 2019, Asosiasi Pelarut India dan Dewan Minyak Sawit Indonesia telah bekerja sama untuk mendorong penerimaan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Inisiatif ini dinilai penting untuk memperkuat produktivitas dan memastikan rantai pasok sawit Indonesia lebih berkelanjutan.
Terkait dengan kebijakan bea keluar (BK) dan pungutan ekspor (PE), Wijayanto menegaskan bahwa instrumen tersebut tetap relevan untuk mendukung hilirisasi. “Pungutan ekspor dirancang agar hasilnya bisa dialokasikan untuk peningkatan produktivitas, kapasitas, hingga promosi. Sementara bea keluar mendorong agar ekspor kita berfokus pada produk bernilai tambah tinggi, bukan hanya produk hulu,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, meski potensi pasar sawit dan produk turunannya di India sangat besar, pemerintah tetap berpegang pada prinsip keseimbangan. “Kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas. Karena itu, kebijakan ekspor selalu dikoordinasikan dengan kementerian terkait seperti Pertanian dan ESDM,” kata Wijayanto.














