Jakarta, SAWIT INDONESIA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia membuka awal 2026 dengan tren yang menggembirakan. Salah satu motor utamanya adalah crude palm oil (CPO) dan produk turunannya yang kembali menunjukkan daya saing kuat di pasar global.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, sepanjang Januari 2026, CPO dan turunannya bersama besi baja serta batu bara menyumbang 29,31 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Kontribusi tersebut menegaskan posisi strategis sawit dalam struktur perdagangan Indonesia.
Secara tahunan (year on year/yoy), ekspor CPO dan turunannya melonjak 59,63 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekspor nonmigas pada awal tahun.
“Selama Januari 2026, CPO dan turunannya, besi dan baja, serta batu bara memberikan kontribusi sebesar 29,31 persen terhadap total ekspor nonmigas,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2 Februari 2026).
Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD 22,16 miliar atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang naik 4,38 persen yoy.
Kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15) yang di dalamnya termasuk CPO tumbuh 46,05 persen dan memberi andil terbesar terhadap kenaikan total ekspor, yakni 4,61 persen. Angka ini menunjukkan permintaan global terhadap produk berbasis sawit tetap solid.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa industri sawit masih menjadi tulang punggung ekspor nasional. Selain menghasilkan devisa, sektor ini juga berperan menjaga stabilitas neraca perdagangan serta menggerakkan rantai nilai industri hilir di dalam negeri.
Dengan tren pertumbuhan yang kuat di awal tahun, sawit kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu penopang utama ekonomi Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.














