Bali, SAWIT INDONESIA -- PT Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan penuh dari sisi kilang, infrastruktur logistik, hingga jaringan distribusi untuk mendukung program prioritas ketahanan energi nasional dan Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mengawal transisi menuju mandatori B50.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Adityawarman mengemukakan bahwa integrasi pengolahan (refinery), komersial, hingga distribusi di bawah satu entitas Pertamina Patra Niaga kini makin memperkuat keandalan rantai pasok energi berbasis bahan bakar nabati di tanah air.
"Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang menekan pasokan minyak mentah, Pertamina mempercepat transformasi portofolio energi. Target kami adalah mentransformasi bisnis energi fosil dari 72% pada 2035 menjadi 79% energi rendah karbon pada 2060," ujarnya dalam diskusi sesi II gelaran 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (17 September 2026).
Dia menjelaskan bahwa Pertamina terus mengakselerasi pengembangan kilang hijau (green refinery). Saat ini, Kilang Cilacap dan Kilang Dumai telah mampu memproduksi bahan bakar berbasis minyak nabati seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan kandungan 100% bio-fuel, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), hingga inovasi bensin hijau (green gasoline) dengan metode co-processing minyak jelantah (used cooking oil) sebesar 5%.
Dari sisi infrastruktur distribusi, Pertamina memanfaatkan 121 terminal BBM yang tersebar di seluruh Indonesia guna menjamin kelancaran penyaluran biofuel hingga pelosok daerah. Penyempurnaan titik blending kini juga telah diperluas langsung hingga ke area kilang pengolahan.
"Penyaluran B40 telah berjalan baik di seluruh Indonesia, dengan satu-satunya tantangan geografis tersisa di jalur Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Untuk B50, infrastruktur, rantai pasok, dan pengujian parameter teknis bersama Lemigas telah kami siapkan guna mendukung kebijakan pemerintah," tambahnya.














