• Minggu, 4 Oktober 2026
Kampus & SDM Sawit

Sebuah Harapan Guru di tengah Kebun Sawit

Pagi di kawasan perkebunan selalu dimulai dengan situasi yang khas. Jalan tanah yang panjang, dan seringkali becek dan licin pada saat hujan, debu yang menempel di seragam sekolah para siswa, dan perjalanan jauh yang harus ditempuh dari rumah sampai ke sekolah. Pemandangan dump truck milik perusahaan sawit yang berisi anak-anak berseragam untuk diantarkan ke sekolah menjadi pemandangan yang biasa. Di balik semua yang “biasa” dan terbatas itu, ada mimpi – mimpi kecil untuk masa depan yang lebih baik dan semangat yang tidak pernah padam untuk mewujudkannya.

Realita Kehidupan di Kebun Sawit

Di Sukamara, Kalimantan Tengah, Cut Maharini telah mengabdikan dirinya selama lebih dari 15 tahun sebagai guru SD. Ia menyaksikan langsung bagaimana anak-anak sering dipandang sebelah mata pada saat mendampingi mereka lomba di luar sekolah.

“Anak Sawit… Anak Sawit…”

Sebutan yang terdengar sederhana, namun memengaruhi rasa percaya diri anak-anak. Mereka mulai merasa ragu, kecil, dan tidak mampu bersaing dengan siswa dari sekolah lain.

Di tempat lain, di Ketapang Kalimantan Barat, Safira Dewi menghadapi motivasi belajar siswa yang rendah. Siswa datang ke sekolah namun tidak sepenuhnya bersekolah.

Sementara di MS HIdayatul Quran di pelosok Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pemandangan kelas yang sunyi hening dengan siswa yang pasif menjadi situasi yang lumrah. Kebungkaman siswa di kelas bukanlah tanda mengerti, melainkan wujud kebingungan. Jangankan materi minggu lalu, pelajaran sehari sebelumnya saja sudah menguap dari ingatan mereka. Pembelajaran kehilangan maknanya.

Tiga daerah perkebunan yang bebeda, Satu benang merah.

Tantangan pendidikan di kawasan perkebunan bukan hanya soal fasilitas, namun juga soal harapan dan kualitas guru.

Titik Balik: Saya harus berubah demi anak didik

Perubahan besar dimulai ketika sekolah mendapatkan pelatihan dan pendampingan intensif dari Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Lighthouse School Program.

Bagi seorang Cut Maharini, pengalaman ini membuka wawasan baru bahwa perubahan tidak hanya terjadi di kelas namun juga melalui perencanaan pembelajaran yang sitematis dengan strategi dan pendekatan mengajar yang menfasilitasi kebutuhan dan potensi siswa.

Terngiang kembali ucapan “Anak Sawit” di telinganya.

Ia menolak membiarkan label itu menjadi batas. “Tidak apa-apa kalian anak-anak sawit, tetapi kalian bisa memiliki prestasi yang lebih dari mereka yang bersekolah di kota.”

Di Ketapang, Safira Dewi pun mengalami perubahan serupa. Ia belajar menciptakan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan menyenangkan, di tengah keterbatasan sumber daya. Bersama dengan rekan guru lainnya, Safira belajar strategi manajemen kelas yang kondusif, serta bagaimana membangun hubungan yang lebih kuat antara sekolah dan masyarakat melalui peran komite sekolah.

Safira bertekad untuk merintis perubahan kecil dari dalam kelasnya terlebih dahulu. “Semoga siswa lebih senang belajar dan menjadi virus kebaikan di SD Perdana ini”, Safira berharap.

Di MS Hidayatul Quran, para guru mulai menerapkan pembelajaran kooperatif, menggunakan media pembelajaran yang beragam bahkan menggunakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Belajar bukan hanya di ruang kelas. Perubahan ini tidak mudah. Para guru harus membagi waktu antara mengajar, mengikuti pelatihan, hingga mengerjakan tugas di malam hari. Namun perlahan, proses tersebut membentuk kebiasaan baru yang lebih professional.

Dari Keraguan menjadi Kepercayaan Diri

Perubahan cara mengajar ini bukan hanya berdampak pada siswa, namun juga pada guru.

Cut Maharini yang sebelumnya kurang percaya diri kini berani mengikuti berbagai kompetisi. Cut berhasil meraih Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Sukamara dan aktif berbagi praktik baik kepada guru lain.

Di Ketapang, perubahan mengantarkan Safira menjadi Pejabat Sementara Kepala Sekolah, sebuah peran yang menunjukkan bahwa dedikasi dan komitmen dapat meningkatkan kompetensi yang pada akhirnya membawa perubahan yang lebih luas.

Sementara di MS Hidayatul Quran, siswa lebih disiplin dan lebih terlibat dalam pembelajaran. Jarang ditemui siswa yang asyik bermain pada saat guru menjelaskan. Kepala madrasah secara rutin melakukan supervisi langsung terhadap proses pembelajaran dan program sekolah.

Dampak perubahan ini tidak berhenti di ruang kelas, melainkan meluas ke komunitas. Para guru mulai berbagi praktik baik dengan sekolah lain. Transformasi sekolah dimulai dari satu guru yang percaya muridnya, satu kelas yang mulai berubah, dan satu sekolah yang berkomitmen mewujudkan mimpi kecil para siswa di tengah hamparan kebun sawit.

Dari tempat terpencil yang sederhana, lahir sebuah mimpi, harapan, dan perubahan.

(artikel ditulis berdasarkan narasi ketiga guru yang mengajar di Perkebunan sawit)

Artikel Terkait